BERITA TERKINI
Konflik Iran Tinggalkan Dampak Berkepanjangan pada Pasar Keuangan Global

Konflik Iran Tinggalkan Dampak Berkepanjangan pada Pasar Keuangan Global

Konflik yang melibatkan Iran disebut telah meninggalkan “bekas luka” pada pasar keuangan global, dengan investor memperkirakan harga komoditas dan imbal hasil obligasi sulit kembali ke level sebelum konflik dalam waktu dekat. Financial Times pada 10 April melaporkan bahwa meski telah terjadi gencatan senjata selama dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran, harga energi masih bertahan jauh di atas posisi sebelum perang.

Kondisi tersebut dikaitkan dengan kerusakan infrastruktur di wilayah Teluk serta turunnya kepercayaan pasar setelah Iran memblokade Selat Hormuz, jalur pelayaran yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia. Situasi ini memperkuat persepsi risiko dan mendorong pelaku pasar menyesuaikan kembali ekspektasi mereka.

James Vokins dari Aviva Investors menilai pasar kini harus mengevaluasi risiko pada tingkat yang lebih tinggi. Menurutnya, sekalipun gencatan senjata jangka panjang tercapai, dampak perang tetap akan membekas dan membuat investor menuntut premi risiko yang lebih besar.

Tekanan sempat terlihat jelas pada Maret 2026, ketika pasar saham dan obligasi global anjlok tajam seiring meningkatnya ketegangan, sebelum kemudian pulih cepat setelah muncul kabar gencatan senjata. Namun, sejumlah indikator fundamental menunjukkan tekanan belum sepenuhnya mereda. Harga minyak mentah Brent tercatat masih hampir 35% lebih tinggi dibandingkan sebelum perang. Sementara itu, imbal hasil obligasi—terutama obligasi pemerintah AS tenor dua tahun—tetap sekitar 0,4 poin persentase lebih tinggi dari level pra-konflik.

Di Eropa, kenaikan imbal hasil obligasi bahkan lebih menonjol. Imbal hasil obligasi di Inggris, Jerman, dan Italia dilaporkan meningkat lebih dari 0,5 poin persentase dibandingkan sebelum pertempuran pecah. Pergerakan ini mencerminkan sensitivitas ekonomi negara pengimpor energi terhadap perubahan harga minyak global.

Bill Papadakis dari Lombard Odier menilai bahwa bahkan dalam skenario paling optimistis sekalipun, prospek ekonomi saat ini telah memburuk secara signifikan dibandingkan kondisi sebelum perang.

Di sisi lain, kepercayaan terhadap aset tradisional Amerika juga disebut mengalami guncangan, tidak hanya pada komoditas dan obligasi, tetapi juga aset lainnya. Dolar AS dan obligasi pemerintah—yang sebelumnya kerap dipandang sebagai aset aman—kini menghadapi peningkatan risiko. Faktor yang disebut turut memengaruhi antara lain ketegangan hubungan AS dengan sekutu-sekutunya serta meningkatnya utang publik di tengah potensi perang.

George Pearkes dari Bespoke Investment Group menyatakan premi risiko untuk aset AS kini lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik. Sementara itu, Andrew Jackson dari Vontobel mengatakan klien menunjukkan minat yang meningkat pada pasar yang dinilai lebih stabil, seperti Swiss, seiring menurunnya kepercayaan terhadap prediktabilitas ekonomi AS.

Tren diversifikasi portofolio juga menguat. Sejumlah manajer dana, termasuk dari DoubleLine, menyebut mereka meningkatkan bobot investasi di pasar negara berkembang, dengan memanfaatkan volatilitas tinggi untuk mencari peluang.

Di Eropa, prospek pasar saham dinilai menjadi kurang positif. Jim Caron dari Morgan Stanley Investment Management mengatakan ia telah mengurangi kepemilikan saham Eropa dalam portofolionya karena dampak kuat dari tingginya harga energi di kawasan tersebut. Pandangan serupa disampaikan Beata Manthey dari Citi, yang menilai guncangan energi membuat proyeksi skenario pertumbuhan yang kuat untuk Eropa menjadi sulit.

Meski gencatan senjata telah diberlakukan, ketegangan geopolitik disebut belum sepenuhnya mereda karena Israel masih melanjutkan operasi militernya di Lebanon. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa risiko geopolitik tetap ada dan berpotensi terus memengaruhi pasar.

Ajay Rajadhyaksha, Ketua Riset Global di Barclays, menilai gencatan senjata bisa menghentikan pertempuran, tetapi tidak dapat membalikkan dampak yang telah terjadi. Menurutnya, perang telah menimbulkan konsekuensi yang kemungkinan akan dihadapi pasar dalam waktu lama.