Pasar saham Asia melemah untuk hari ketiga berturut-turut di tengah ketidakpastian mengenai durasi konflik di Timur Tengah serta meningkatnya kekhawatiran tekanan inflasi. Situasi tersebut meredam minat investor terhadap aset berisiko dan mendorong pergeseran ke instrumen yang dinilai lebih aman.
Dalam laporan Spring Flash yang diterbitkan Eastspring Investments, indeks MSCI Asia Pasifik tercatat berada di zona merah. Korea Selatan menjadi salah satu pasar yang tertekan, seiring aksi ambil untung setelah kinerja yang kuat sepanjang tahun ini.
Indeks Kospi mencatat penurunan dua hari terbesar sejak 2008, dipicu pelemahan saham-saham berkapitalisasi besar seperti Samsung Electronics, SK Hynix, dan Hyundai Motor. Perdagangan di Kospi dan Kosdaq sempat dihentikan selama 20 menit setelah kedua indeks jatuh melewati ambang batas penurunan delapan persen. Sejumlah pelaku pasar menilai penjualan paksa pada posisi leverage turut mempercepat tekanan di pasar.
Otoritas Korea Selatan disebut bersiap menghadapi potensi dampak volatilitas yang lebih luas. Ketua Komisi Jasa Keuangan mendesak lembaga keuangan untuk mengaktifkan rencana darurat bila diperlukan, termasuk penggunaan dana stabilisasi pasar guna menjaga stabilitas.
Pelemahan di Asia ini terjadi setelah rebound yang sebelumnya terlihat di pasar saham Amerika Serikat. Pernyataan Donald Trump mengenai upaya menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz sempat meredakan kekhawatiran pasar.
Di pasar komoditas, harga minyak diperdagangkan di sekitar US$82 per barel, naik sekitar 13% dibanding penutupan pada Jumat pekan lalu. Pada saat yang sama, pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve, di tengah kekhawatiran konflik berkepanjangan dapat memicu gelombang inflasi baru.
Di tengah kondisi tersebut, emas dan dolar AS kembali menjadi pilihan aset safe-haven. Dolar AS menguat untuk hari ketiga berturut-turut.
Sejalan dengan pelemahan regional, pasar saham Indonesia juga terkoreksi lebih lanjut pada perdagangan hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun sekitar 4,32% atau 343,19 poin ke level 7.596,57 pada sesi pertama. Sejumlah saham yang menjadi penekan terbesar antara lain TLKM (-7,83%), AMMN (-10,26%), BRMS (-13,27%), BREN (-5,94%), dan BBCA (-1,77%).
Pasar obligasi turut melemah. Imbal hasil SBN tenor lima tahun naik ke 5,99% dari 5,90%, sementara tenor 10 tahun naik 5 basis poin menjadi 6,59%. Nilai tukar rupiah terdepresiasi sekitar 0,26% ke Rp16.916 per dolar AS, di tengah penguatan indeks dolar AS.
Dalam wawancara dengan Reuters, Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan kesiapan untuk menyesuaikan belanja negara agar defisit anggaran tetap di bawah 3% terhadap PDB. Disebutkan, jika harga minyak naik hingga sekitar US$90 per barel tanpa penyesuaian belanja, defisit anggaran diperkirakan dapat melebar hingga sekitar 3,6% dari PDB. Sebagai langkah antisipatif, pemerintah berpotensi mengurangi alokasi belanja pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diperkirakan dapat menghemat anggaran hingga sekitar Rp100 triliun.
Hingga kini, belum ada kejelasan kapan dan bagaimana konflik akan berakhir, sehingga konsekuensinya dinilai masih sulit diprediksi. Secara historis, guncangan geopolitik kerap memicu lonjakan tajam harga minyak dan aset safe-haven pada fase awal, namun pergerakan tersebut cenderung mereda jika konflik tetap terkendali dan tidak berkembang menjadi krisis yang lebih luas.
Selama belum ada tanda de-eskalasi yang jelas, volatilitas diperkirakan tetap tinggi, terutama pada aset berisiko, nilai tukar, dan komoditas energi.

