BERITA TERKINI
Ketegangan AS-Israel dan Iran Dorong Bank Sentral Lebih Waspada, Risiko Inflasi Menguat

Ketegangan AS-Israel dan Iran Dorong Bank Sentral Lebih Waspada, Risiko Inflasi Menguat

Risiko inflasi yang meningkat akibat perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran, terutama melalui potensi kenaikan harga minyak, mendorong sejumlah bank sentral dunia bersikap lebih berhati-hati. Dalam situasi ini, sebagian otoritas moneter cenderung menahan langkah pelonggaran kebijakan.

Di kawasan yang banyak bergantung pada impor energi dari Timur Tengah, respons bank sentral dinilai relatif seragam. Namun, dinamika domestik di masing-masing negara tetap berbeda, mulai dari tekanan terhadap nilai tukar hingga meningkatnya risiko stagflasi.

Di Indonesia, Bank Indonesia (BI) masih menghadapi tantangan yang lazim bagi negara berkembang, yakni menyeimbangkan kebutuhan menjaga stabilitas nilai tukar dengan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi.

Nilai tukar rupiah tercatat melemah 1,13% sejak awal tahun. Meski bukan pelemahan terburuk di kawasan, rupiah sempat menyentuh level terendah sepanjang masa pada 16 Maret 2026, yakni Rp16.997 per dolar AS dalam perdagangan spot pukul 13.30 WIB.

Posisi tersebut melampaui catatan pelemahan rupiah pada masa krisis moneter 1998 di level Rp14.950 per dolar AS, serta periode pandemi Covid-19 pada 2020 di kisaran Rp16.310 per dolar AS.