Gejolak geopolitik di Timur Tengah yang dipicu konflik Iran versus Israel beserta sekutunya, Amerika Serikat, memunculkan kekhawatiran baru terhadap perekonomian global. Situasi tersebut disebut telah memicu kepanikan ekonomi, seiring lonjakan harga minyak mentah dunia jenis Brent yang dilaporkan menembus level 100 dolar AS per barel.
Ekonom sekaligus pengajar di The Indonesia Capital Market Institute (TICMI), Adriyan Sayed, menilai kenaikan harga minyak berpotensi menimbulkan disrupsi besar terhadap sendi-sendi ekonomi dunia. Menurutnya, gangguan pada harga minyak mentah dapat merembet ke berbagai sektor karena minyak menjadi komponen penting dalam biaya produksi dan distribusi.
Adriyan mengatakan dampak langsung yang paling sulit dihindari adalah transmisi inflasi, terutama menjelang periode permintaan tinggi seperti Lebaran. Ia memperkirakan kenaikan biaya energi akan mendorong peningkatan tarif angkutan umum dan biaya logistik, yang pada akhirnya berpengaruh pada harga bahan pokok, termasuk sayur-mayur.
Ia menjelaskan, hubungan antara kenaikan harga minyak dan meningkatnya biaya hidup bersifat langsung. Saat harga minyak mentah naik, tarif angkutan seperti angkot dan bus cenderung ikut terkerek. Dalam kondisi menjelang Lebaran, ketika mobilitas masyarakat meningkat untuk mudik, ia menilai harga tiket dan bahan pangan berpotensi ikut melonjak karena kenaikan biaya dasar bahan bakar.
Selain berdampak pada masyarakat, Adriyan juga menilai kondisi tersebut dapat menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ia menyebut harga minyak saat ini telah jauh melampaui asumsi 70 dolar AS per barel. Menurutnya, ketika beban fiskal membesar, pemerintah berpeluang menerapkan skema berbagi risiko kepada masyarakat, yang dapat berujung pada kenaikan harga BBM per liter.
Di sisi moneter, Adriyan menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah yang disebutnya hampir menyentuh 17.000 per dolar AS. Ia menilai pelemahan ini dapat memperkuat efek domino terhadap perekonomian. Jika konflik berkepanjangan, ia memperingatkan risiko hiperinflasi serta krisis ekonomi yang mengingatkan pada situasi era 1990-an, apabila tidak ada upaya yang mampu meredakan ketegangan.
Adriyan juga menilai kenaikan harga minyak dapat berujung pada kenaikan suku bunga. Kondisi itu, menurutnya, berpotensi membuat penyaluran kredit, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR), menjadi lebih sulit dan lebih mahal. Ia menambahkan bahwa beberapa lembaga pemeringkat dunia seperti Moody’s dan Fitch disebut mulai menaruh perhatian pada kondisi fiskal Indonesia, terutama ketika pengeluaran dinilai lebih besar daripada pendapatan.
Untuk langkah jangka pendek, Adriyan mengusulkan kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) sebagai cara menekan konsumsi BBM tanpa harus langsung menaikkan harga secara drastis. Sementara untuk jangka panjang, ia menekankan pentingnya kemandirian di sektor energi.