TEHERAN — Iran disebut melancarkan strategi yang bertumpu pada tekanan ekonomi global dengan menjadikan Selat Hormuz sebagai instrumen utama perlawanan terhadap Amerika Serikat (AS) dan Israel. Dengan menahan jalur pasokan energi dunia tersebut, Teheran dinilai berupaya mengimbangi superioritas militer lawan melalui dampak langsung pada pasar energi.
Menurut laporan yang mengutip tiga sumber regional yang memahami perencanaan Iran, strategi itu telah disusun jauh sebelum konflik pecah. Iran memanfaatkan posisi geografisnya di Selat Hormuz untuk menciptakan gangguan yang berdampak pada pasar energi global.
Selat Hormuz merupakan jalur krusial bagi perdagangan energi. Sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia melintas setiap hari melalui perairan ini. Dalam perkembangan terbaru, Iran disebut secara efektif telah menutup jalur tersebut.
Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz anjlok hingga 97 persen sejak AS dan Israel memulai serangan pada 28 Februari 2026. Laporan mengenai penutupan efektif jalur itu disampaikan Reuters pada Jumat (13/3/2026).
Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, Ali Vaez, menilai Iran tidak memiliki pilihan realistis untuk menang dalam konfrontasi langsung. “Iran kalah persenjataan, tidak mungkin mereka bisa menang dalam konfrontasi langsung,” kata Vaez.
Vaez menambahkan, Teheran disebut telah mengantisipasi potensi serangan lanjutan dari AS dan Israel sejak perang singkat pada Juni tahun lalu. Dalam kerangka itu, Iran disebut merancang strategi untuk memperluas konflik dalam dimensi ruang dan waktu. “Jika Iran menyandera ekonomi global, (Presiden AS Donald) Trump akan menjadi pihak yang pertama ‘berkedip’ (menyerah),” ujar Vaez.
Sumber-sumber regional juga menyebut Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) telah lama menyiapkan rencana tersebut sebagai bagian dari upaya melindungi sistem pemerintahan Iran yang telah berusia 47 tahun. Strategi itu disebut resmi diaktifkan pada 28 Februari, segera setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei gugur pada hari pertama konflik.
Inti strategi tersebut, menurut sumber-sumber itu, berangkat dari pengakuan atas keterbatasan militer Iran. Alih-alih menghadapi kekuatan AS secara frontal, Teheran memilih menekan aliran minyak dan melakukan serangan asimetris terhadap aset-aset AS di kawasan.