Iran pada Sabtu (15/3) mengancam akan memperluas konflik di Timur Tengah dengan menargetkan fasilitas di kawasan yang memiliki hubungan dengan Amerika Serikat (AS). Ancaman itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan banyak negara akan mengirim kapal perang untuk membantu membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dunia, dilaporkan praktis ditutup oleh Iran sejak awal konflik antara Iran melawan AS dan Israel yang telah memasuki pekan ketiga. Melalui unggahan di Truth Social, Trump menyebut negara-negara seperti China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris diharapkan bergabung dalam koalisi maritim untuk mengakhiri hambatan yang ia sebut dibuat secara sengaja.
Eskalasi militer juga dilaporkan terus meningkat. The Guardian melaporkan pesawat tempur AS membombardir Pulau Kharg—pusat ekspor minyak utama Iran—pada Jumat dan Sabtu. Di saat yang sama, Angkatan Udara Israel disebut meluncurkan puluhan serangan yang menargetkan fasilitas militer dan keamanan di Iran. Salah satu serangan udara di Isfahan dilaporkan menghantam sebuah pabrik dan menewaskan sedikitnya 15 orang.
Iran merespons dengan meluncurkan salvo rudal balistik ke arah Israel dan Uni Emirat Arab (UEA). Di Fujairah, yang merupakan pusat pengisian bahan bakar kapal global di UEA, asap hitam terlihat membubung akibat serangan tersebut dan memaksa penangguhan sejumlah operasi pemuatan minyak. Militer Iran juga secara terbuka meminta warga sipil di UEA menjauhi pelabuhan dan lokasi yang mereka sebut sebagai tempat persembunyian pasukan Amerika.
Analis International Crisis Group, Ali Vaez, menilai Iran sedang menjalankan strategi “menyandera ekonomi global” untuk menekan pemerintahan Trump agar menghentikan serangan, terutama melalui gangguan pada pasar energi. Menurut Vaez, strategi Teheran mencakup tiga langkah utama: memastikan kelangsungan rezim, mempertahankan kemampuan balasan militer, dan memperpanjang konflik agar dapat mengakhirinya dengan syarat yang menguntungkan.
Kekhawatiran terhadap dampak ekonomi global turut meningkat seiring gangguan di Selat Hormuz yang mendorong kenaikan tajam harga minyak dunia. Peneliti Chatham House, Neil Quilliam, memperingatkan serangan terhadap Pulau Kharg dapat mendorong harga minyak mendekati 150 dolar AS per barel.
Juru bicara komando militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, memperingatkan seluruh infrastruktur energi di kawasan yang bekerja sama dengan AS kini berada dalam jangkauan serangan Iran. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyindir efektivitas kehadiran militer AS di Timur Tengah. Melalui platform X, ia menyatakan payung keamanan AS di kawasan dinilai tidak sekuat yang diperkirakan dan justru mengundang kekacauan, serta mendesak negara-negara tetangga untuk mengusir pasukan asing dari wilayah mereka.
Dampak konflik juga mulai dirasakan di sejumlah negara. Di Irak, Kedutaan Besar AS di Baghdad mengeluarkan peringatan darurat bagi warga AS untuk segera meninggalkan negara tersebut setelah serangan rudal ke kompleks kedutaan. Di Lebanon, krisis kemanusiaan dilaporkan memburuk dengan lebih dari 800 orang tewas dan ratusan ribu lainnya mengungsi akibat serangan Israel terhadap Hizbullah.
Dari sisi ekonomi, harga minyak dunia terus naik sejak perang dimulai pada 28 Februari. Pakar energi memperingatkan bahwa bila serangan terhadap infrastruktur minyak di Pulau Kharg berlanjut, harga minyak yang berada di kisaran 120 dolar AS per barel dapat melonjak hingga 150 dolar AS, level yang dinilai berpotensi memicu krisis ekonomi global yang meluas.