BERITA TERKINI
Inflasi Februari 2026 Diperkirakan Menguat Jelang Ramadan, Harga Pangan Jadi Pendorong

Inflasi Februari 2026 Diperkirakan Menguat Jelang Ramadan, Harga Pangan Jadi Pendorong

Laju inflasi Indonesia diperkirakan meningkat pada Februari 2026 seiring momentum Ramadan yang umumnya mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok. Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data inflasi Februari pada Senin, 2 Maret 2026.

Berdasarkan konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg, median proyeksi inflasi bulanan (month-to-month/mtm) pada Februari 2026 mencapai 0,3 persen. Sementara secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Februari diperkirakan berada di 4,3 persen. Jika terealisasi, angka ini menjadi level tertinggi sejak April 2023.

Kenaikan harga pangan dinilai menjadi faktor utama pendorong inflasi. Mengacu pada data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia, harga beras tercatat naik di sebagian besar provinsi sepanjang Februari. Kenaikan tertinggi terjadi di Banten sebesar 3,01 persen secara bulanan, disusul Jawa Tengah 2,33 persen, Aceh 2,31 persen, dan Kalimantan Utara 2,03 persen.

Harga daging ayam ras juga naik signifikan di berbagai daerah. Lonjakan tertinggi tercatat di Kalimantan Utara sebesar 13,64 persen, diikuti Maluku 13,31 persen, Yogyakarta 10,34 persen, dan Nusa Tenggara Barat 9,94 persen.

Kondisi serupa terlihat pada telur ayam ras yang naik di sebagian besar provinsi. Kenaikan tertinggi terjadi di Yogyakarta 12,5 persen, Jawa Tengah 12,43 persen, Jawa Barat 10,74 persen, Jawa Timur 10,53 persen, serta Banten 10 persen.

Komoditas cabai menjadi sorotan karena kenaikannya yang tajam. Untuk cabai merah, kenaikan ekstrem tercatat di Sulawesi Utara yang melonjak 83,02 persen dalam sebulan. Kenaikan juga terjadi di Sulawesi Barat 52,52 persen, Gorontalo 47,37 persen, dan Bali 46,78 persen. Sementara cabai rawit di Sulawesi Selatan dilaporkan meroket 99,23 persen, diikuti Nusa Tenggara Barat 86,48 persen, Gorontalo 50,83 persen, dan Kalimantan Timur 48,97 persen.

Ekonom PT Bank Permata Tbk, Faisal Rachman, menilai lonjakan harga pangan menjelang Ramadan merupakan pola yang lazim. Menurutnya, inflasi bulanan biasanya meningkat pada periode tersebut akibat faktor demand-pull, terutama dari kenaikan harga komoditas pangan utama seperti daging ayam ras, cabai rawit, dan cabai merah.

Di sisi lain, kenaikan inflasi tahunan juga dipengaruhi basis perbandingan tahun lalu. Pada Januari hingga Februari 2025, pemerintah memberikan diskon tarif listrik 50 persen yang menekan inflasi, bahkan menyebabkan deflasi tahunan pada Februari 2025.

Untuk inflasi inti (core inflation), median proyeksi berada di 2,48 persen yoy, relatif stabil dibandingkan Januari yang sebesar 2,45 persen yoy. Stabilitas nilai tukar rupiah serta harga emas yang masih tinggi disebut turut memengaruhi pergerakan inflasi inti.

Faisal menilai ekspektasi inflasi inti yang masih berada dalam target 1,5 hingga 3,5 persen memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuannya meskipun inflasi umum meningkat. Ia memperkirakan inflasi umum akan bertahan di atas 3 persen yoy hingga kuartal I-2026 sebelum melandai ke bawah 3 persen pada akhir 2026.

Meski demikian, ia menilai ruang penurunan suku bunga acuan terbatas. Faisal memperkirakan pemangkasan BI Rate berpotensi terjadi satu kali sebesar 25 basis poin pada semester II-2026.