BERITA TERKINI
Inflasi Dinilai Menggerus Nilai Tabungan, Pasar Modal Disebut Alternatif untuk Perencanaan Keuangan

Inflasi Dinilai Menggerus Nilai Tabungan, Pasar Modal Disebut Alternatif untuk Perencanaan Keuangan

Awal tahun kerap dimanfaatkan masyarakat untuk menata ulang rencana keuangan, mulai dari menabung lebih rutin, mengurangi utang konsumtif, hingga menyiapkan dana pendidikan anak dan hari tua. Namun, berbagai target tersebut sering kali sulit diwujudkan bila tidak disertai strategi pengelolaan keuangan yang tepat.

Di tengah dinamika ekonomi, sekadar menyimpan uang dinilai tidak lagi memadai. Inflasi yang terus berjalan membuat nilai mata uang tergerus dan daya beli menurun dari waktu ke waktu. Kondisi ini membuat dana yang hanya disimpan berisiko tidak mampu mengejar kenaikan biaya hidup, pendidikan, serta kesehatan pada masa mendatang.

Dalam konteks itu, pasar modal disebut dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengelola aset secara lebih produktif dan terencana. Melalui berbagai instrumen di pasar modal, masyarakat memiliki pilihan penempatan dana dengan horizon waktu yang beragam, mulai dari jangka pendek, menengah, hingga panjang. Selain berpotensi mengembangkan dana, investasi di pasar modal juga dipandang sebagai bentuk partisipasi dalam mendorong pertumbuhan perusahaan di Indonesia dan memperkuat fundamental ekonomi.

Perencanaan keuangan yang baik, antara lain, dimulai dari penetapan tujuan. Setiap tujuan memiliki karakteristik risiko dan rentang waktu yang berbeda, sehingga diperlukan penyesuaian instrumen. Investasi yang konsisten dan terukur disebut berpeluang memberikan imbal hasil di atas inflasi, sehingga daya beli dapat lebih terjaga untuk kebutuhan jangka panjang.

Memasuki 2026, tantangan ekonomi diperkirakan masih dipengaruhi dinamika global dan domestik, termasuk akselerasi teknologi, ketidakpastian geopolitik, serta transformasi sektor industri. Di tengah ketidakpastian tersebut, pasar modal dinilai membuka peluang bagi investor untuk menempatkan dana pada perusahaan yang inovatif, resilien, dan mampu menciptakan nilai tambah dalam jangka panjang.

Meski demikian, investasi di pasar modal ditekankan bukan ajang mencari keuntungan instan atau aktivitas spekulatif yang mengandalkan keberuntungan. Investasi yang sehat membutuhkan perencanaan, pemahaman, dan kedisiplinan. Keputusan investasi sebaiknya didasarkan pada tujuan keuangan, profil risiko, serta jangka waktu yang jelas agar pengelolaan keuangan tetap rasional dan terukur.

Literasi keuangan juga disebut menjadi fondasi penting agar resolusi finansial dapat terwujud. Masyarakat diingatkan untuk memahami legalitas produk investasi, mekanisme risiko, serta mewaspadai tawaran investasi yang tidak masuk akal. Edukasi pasar modal dinilai dapat membantu individu mengambil keputusan yang lebih bijak.

Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan terus mendorong peningkatan literasi dan inklusi pasar modal melalui berbagai program edukasi. Sepanjang 2025, BEI melalui Kantor Perwakilan dan Galeri Investasi BEI menyelenggarakan 29.474 kegiatan literasi, inklusi, dan aktivasi secara langsung dan webinar yang diikuti 2.820.702 peserta. Selain itu, terdapat 17.575 kegiatan edukasi pasar modal secara virtual melalui media sosial dengan jangkauan 24.092.031 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia.

BEI menyebut materi edukasi pasar modal dapat diakses melalui situs resmi www.idx.co.id maupun kanal digital BEI. BEI juga menyediakan program edukasi seperti Sekolah Pasar Modal (SPM) yang dapat diikuti secara daring dan luring untuk membantu masyarakat memahami dasar-dasar investasi dan pengenalan produk pasar modal. Pembukaan rekening efek di perusahaan sekuritas juga disebut sebagai langkah awal, karena investor dapat memperoleh pendampingan, informasi pasar, serta pemahaman terkait produk investasi seperti saham, reksa dana, atau surat utang yang dapat disesuaikan dengan karakter dan tujuan investasi masing-masing.

Pada akhirnya, membangun keuangan yang sehat dipandang sebagai proses jangka panjang. Resolusi finansial awal tahun dinilai tidak semata berfokus pada hasil akhir, tetapi juga pada pembentukan kebiasaan finansial yang baik. Dengan memanfaatkan pasar modal secara bijak dan disertai pemahaman memadai, masyarakat disebut memiliki peluang membangun ketahanan finansial yang lebih kuat dan berkelanjutan.