PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) menyiapkan rencana penghimpunan dana melalui pasar modal dengan menerbitkan Obligasi dan Sukuk Ijarah Tahun 2026 senilai total Rp1 triliun. Langkah ini disebut sebagai bagian dari strategi perusahaan untuk mempercepat ekspansi jaringan internet berbasis fiber optic seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas.
Dalam keterbukaan informasi, manajemen INET menyampaikan nilai penerbitan akan dibagi seimbang, masing-masing maksimal Rp500 miliar untuk obligasi dan Rp500 miliar untuk sukuk ijarah. Skema tersebut juga dimaksudkan untuk memperluas basis investor, baik dari instrumen konvensional maupun syariah.
Obligasi I Sinergi Inti Andalan Prima Tahun 2026 direncanakan terbagi dalam dua seri. Seri A memiliki tenor 370 hari kalender dengan pelunasan penuh saat jatuh tempo, sedangkan Seri B bertenor tiga tahun dengan mekanisme pembayaran bullet payment. Sukuk Ijarah I Tahun 2026 juga dirancang dalam dua seri dengan struktur tenor serupa, yaitu 370 hari kalender untuk Seri A dan tiga tahun untuk Seri B, dengan pembayaran sisa imbalan ijarah secara penuh pada saat jatuh tempo.
Berdasarkan jadwal indikatif dalam prospektus, masa penawaran awal dijadwalkan pada 22–27 Januari 2026. Perusahaan menargetkan pernyataan efektif pada 29 Januari 2026, dilanjutkan masa penawaran umum pada 30 Januari–3 Februari 2026. Penjatahan direncanakan pada 4 Februari 2026, distribusi obligasi dan sukuk pada 6 Februari 2026, serta pencatatan di Bursa Efek Indonesia pada 9 Februari 2026.
Dari sisi pemeringkatan, instrumen utang INET telah dinilai oleh PT Kredit Rating Indonesia. Obligasi memperoleh peringkat irA, sementara Sukuk Ijarah mendapatkan peringkat irA sy.
Manajemen INET menyatakan dana bersih hasil penerbitan obligasi dan sukuk akan digunakan untuk ekspansi usaha dan kebutuhan modal kerja. Dana tersebut akan disalurkan dalam bentuk pinjaman kepada anak usaha, PT Garuda Prima Internetindo, untuk pembangunan jaringan FTTH di Kalimantan Barat. Rencana investasi mencakup belanja modal perangkat jaringan seperti Optical Line Terminal, Optical Distribution Cabinet, kabel fiber optic, Optical Network Terminal, serta biaya penggelaran jaringan.
Khusus untuk Sukuk Ijarah, aset dasar transaksi berupa manfaat atas aset tetap milik anak usaha lain, PT Pusat Fiber Indonesia. Aset tersebut adalah jaringan fiber optic sepanjang 430 kilometer di jalur protokol Jabodetabek, dengan estimasi nilai manfaat sewa selama tenor sukuk mencapai Rp928,80 miliar.
Dalam rencana penerbitan ini, INET menunjuk PT KB Valbury Sekuritas dan PT RHB Sekuritas Indonesia sebagai penjamin pelaksana emisi. PT Bank KB Indonesia Tbk bertindak sebagai wali amanat, dengan dukungan konsultan hukum Hanafiah Ponggawa & Partners serta auditor independen KAP Suharli, Sugiharto & Rekan.
Perusahaan menilai industri internet dan infrastruktur digital masih memiliki ruang pertumbuhan, didorong percepatan transformasi digital di berbagai sektor yang meningkatkan kebutuhan layanan internet berkecepatan tinggi dan stabil. INET juga menyoroti peluang dari peningkatan adopsi teknologi seperti 5G, Internet of Things, kecerdasan buatan, dan cloud computing.
Selain pengembangan FTTH, INET melihat potensi pada bisnis Sistem Komunikasi Kabel Laut sebagai penopang konektivitas antarwilayah dan internasional. Menurut perusahaan, posisi geografis Indonesia serta dukungan pemerintah melalui proyek infrastruktur digital nasional menjadi faktor yang membuka peluang pengembangan jaringan kabel laut dan darat.
Secara keseluruhan, rencana penerbitan obligasi dan sukuk ini mencerminkan upaya INET memperkuat struktur pendanaan untuk mendukung ekspansi jaringan. Perusahaan berharap langkah tersebut dapat menangkap peluang pertumbuhan sektor telekomunikasi seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas.

