BERITA TERKINI
Sentimen Global Risk-on Dorong Peluang Rebound Teknikal IHSG, Namun Tekanan Asing Masih Terasa

Sentimen Global Risk-on Dorong Peluang Rebound Teknikal IHSG, Namun Tekanan Asing Masih Terasa

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang mengalami rebound teknikal pada perdagangan Kamis (22/1/2026) seiring membaiknya sentimen pasar regional, setelah sehari sebelumnya tertekan oleh aksi jual global. Riset harian Kiwoom Sekuritas mencatat IHSG pada Rabu (21/1/2026) turun 124,37 poin atau 1,36% ke level 9.010,33, di tengah arus jual bersih investor asing senilai Rp1,88 triliun di seluruh pasar.

Secara teknikal, Kiwoom menilai posisi IHSG masih ditopang area support pertama dari tren naik, yakni MA10 dan level psikologis 9.000. Dengan perubahan sentimen yang lebih kondusif, Kiwoom memperkirakan indeks dapat memantul secara teknikal. Namun, analis juga menyarankan agar momentum rebound dimanfaatkan untuk menjual saham pada harga yang lebih baik, terutama bagi saham-saham yang telah menembus support pertama.

Perbaikan sentimen global terjadi setelah pasar Amerika Serikat menguat tajam pada Rabu (21/1/2026). Wall Street melonjak usai Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak akan mengenakan tarif baru pada negara-negara Eropa, menyusul tercapainya kesepakatan kerangka kerja di masa mendatang terkait Greenland. Dow Jones Industrial Average naik 588 poin atau 1,2%, S&P 500 menguat 1,2%, dan Nasdaq Composite naik 1,2%. S&P 500 juga mencatat kenaikan harian terbesar sejak akhir November.

Seluruh 11 sektor dalam S&P 500 ditutup menguat, dipimpin sektor Energi yang naik 2,4%, sementara enam sektor lain menguat lebih dari 1%. Di level saham, Moderna melonjak 16% dan Intel naik 12%.

Seiring menguatnya selera risiko (risk-on), indeks volatilitas VIX dilaporkan anjlok lebih dari 15% ke level 17. Pasar memandang pernyataan Trump—yang menegaskan adanya kesepakatan kerangka kerja dengan NATO terkait Greenland dan wilayah Arktik serta menolak opsi penggunaan kekuatan militer—sebagai faktor yang menurunkan ketidakpastian jangka pendek.

Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury turun tajam. Imbal hasil tenor 30 tahun turun ke kisaran 4,87%, sementara tenor 10 tahun melemah menjadi sekitar 4,25%. Penurunan ini juga didukung hasil lelang obligasi 20 tahun yang dinilai solid. Dari Asia, obligasi pemerintah Jepang bertenor panjang turut pulih dari tekanan awal pekan, dengan imbal hasil tenor 40 tahun—yang sebelumnya menembus 4%—turun sekitar 17 bps.

Pada pasar valuta asing, Indeks Dolar menguat sekitar 0,25% dengan penguatan terbesar terhadap Franc Swiss. Euro melemah ke sekitar USD 1,17, sedangkan Yen Jepang melemah ke kisaran 158,4 per Dolar menjelang pertemuan kebijakan Bank Sentral Jepang. Analis memperingatkan, tekanan terhadap Yen dan premi jangka waktu obligasi Jepang berpotensi berlanjut jika bank sentral dinilai tetap tertinggal.

Dari Eropa, pergerakan pasar cenderung beragam. Indeks STOXX 600 ditutup sedikit lebih rendah, sementara FTSE Inggris sedikit naik. Ketegangan politik masih terasa, termasuk penangguhan diskusi perjanjian dagang AS-UE di Parlemen Eropa dan agenda pertemuan darurat UE untuk membahas implikasi kebijakan AS terkait Greenland.

Di Asia, Korea Selatan dilaporkan mengalami kontraksi ekonomi pada kuartal IV-2025. Produk domestik bruto (PDB) turun 0,3% secara kuartalan (QoQ), kontraksi terdalam sejak kuartal IV-2022, sementara pertumbuhan tahunan melambat menjadi 1,5%. Sepanjang 2025, ekonomi Korea Selatan tumbuh 1,0%, terendah sejak 2020. Sementara itu di Jepang, volatilitas pasar obligasi meningkat di tengah kekhawatiran arah kebijakan fiskal dan moneter, dengan investor asing tercatat agresif menambah posisi short pada JGB.

Di pasar komoditas, harga emas melonjak ke rekor tertinggi baru, menembus USD 4.880 per ons dan sempat mendekati USD 5.000 per ons. Kenaikan didorong peningkatan ketegangan geopolitik terkait Greenland, melemahnya Dolar, serta naiknya permintaan aset lindung nilai. Sepanjang pekan, emas disebut telah naik lebih dari 5%. Sebaliknya, harga perak turun sekitar 3% setelah sebelumnya mencapai rekor, sementara platinum sempat menyentuh rekor baru sebelum memangkas kenaikan. Harga minyak naik moderat sekitar 0,5%, ditopang gangguan pasokan sementara di Kazakhstan namun tertahan ekspektasi peningkatan stok minyak mentah AS.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI7DRR di 4,75% dalam rapat dewan gubernur terbaru. BI mencatat Rupiah melemah menjadi Rp16.945 per USD pada 20 Januari 2026, atau turun 1,53% dibandingkan akhir 2025, yang dikaitkan dengan arus keluar modal asing akibat ketidakpastian global, ketegangan geopolitik, kebijakan tarif AS, serta tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS. Meski demikian, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 pada kisaran 4,9–5,7%, lebih tinggi dari 2025, ditopang permintaan domestik, stimulus fiskal, investasi hilirisasi sumber daya alam, serta bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang pro-pertumbuhan.

Di ranah pasar modal, ketahanan pasar Indonesia disebut tetap kuat. Sepanjang 2025, IHSG mencatat 24 rekor tertinggi sepanjang masa dan rata-rata transaksi harian meningkat menjadi Rp18,1 triliun meski investor asing masih membukukan jual bersih. Tren tersebut berlanjut pada awal 2026, dengan kapitalisasi pasar Rp16.560 triliun, transaksi harian mendekati Rp30 triliun, dan basis investor domestik mencapai 20 juta orang.

Selain itu, Presiden Prabowo Subianto menghadiri forum bisnis dan investasi di Lancaster House, London, pada 20 Januari 2026 untuk memperkuat kerja sama ekonomi strategis Indonesia-Inggris. Indonesia juga diumumkan bergabung dengan Dewan Perdamaian yang diprakarsai Presiden AS Donald Trump bersama sejumlah negara lain, sebagaimana disampaikan dalam pernyataan bersama para menteri luar negeri pada Rabu (21/1/2026).

Pelaku pasar juga mencermati agenda ekonomi global hari ini, termasuk rangkaian kegiatan Forum Ekonomi Dunia di Davos, neraca perdagangan Jepang, lelang TIPS Treasury AS tenor 10 tahun senilai USD 21 miliar, klaim pengangguran mingguan AS, PDB AS kuartal III final, inflasi PCE AS November, serta laporan pendapatan emiten AS termasuk Procter & Gamble, Intel, GE Aerospace, Abbott Laboratories, dan Intuitive Surgical.