BERITA TERKINI
Industri Nikel dan Baterai EV Masuk Bursa, BLUE Teken CSPA dengan Dragonmine Mining

Industri Nikel dan Baterai EV Masuk Bursa, BLUE Teken CSPA dengan Dragonmine Mining

Jakarta – Peta industri nikel dan baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia kian merambah pasar modal. PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE) mengumumkan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Bersyarat (Conditional Shares Purchase Agreement/CSPA) antara para pemegang saham perseroan dan Dragonmine Mining (Hong Kong) Limited yang direncanakan menjadi pengendali baru.

Dalam keterbukaan informasi tertanggal 19 Februari 2026, Dragonmine Mining disebut berencana membeli 334,4 juta saham atau setara 80% dari seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh. Langkah ini merupakan kelanjutan dari proses akuisisi yang sebelumnya telah disampaikan perseroan pada November 2025.

Dragonmine Mining merupakan perusahaan privat yang berkantor pusat di Hong Kong dan dimiliki oleh Huayou Hongkong Limited. Berdasarkan penelusuran berbagai sumber, Huayou Hongkong Limited merupakan anak usaha Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd yang berperan sebagai unit investasi luar negeri di sektor pertambangan dan mineral.

Huayou memiliki lima pilar bisnis yang mencakup seluruh rantai industri material baterai lithium-ion, termasuk investasi pada sektor nikel di Indonesia. Perusahaan asal Tiongkok itu juga disebut terlibat dalam pengembangan ekosistem baterai terintegrasi, salah satunya melalui Proyek Titan yang bekerja sama dengan Antam dan Indonesia Battery Corporation (IBC).

Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia, Ezaridho Ibnutama, menilai pergantian pengendali berpotensi mengubah model bisnis BLUE. Ia menilai langkah tersebut dapat menjadi jalur masuk perusahaan dengan fundamental lebih kuat melalui skema backdoor listing.

“Sebagai referensi, sekitar 30% dari seluruh perusahaan di BEI saat ini mencatatkan kerugian bersih. Dengan adanya reformasi pasar modal yang mewajibkan porsi saham publik (free float) lebih tinggi berdasarkan ukuran kapitalisasi pasar, regulasi baru ini memicu kemacetan baru pada aksi IPO,” ujar Ezar.

Fenomena serupa disebut pernah terjadi pada PT Solusi Kemasan Digital Tbk (PACK) yang diakuisisi PT Eco Energi Perkasa milik Deng Weiming, pendiri CNGR, produsen prekursor baterai global. Setelah akuisisi, PACK berganti nama menjadi PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk dan mengumumkan rencana rights issue untuk menyerap aset tambang dan smelter nikel.

BLUE yang selama ini dikenal sebagai produsen tinta dan alat tulis kini menghadapi prospek transformasi bisnis seiring rencana akuisisi 80% saham oleh Dragonmine. Huayou juga diketahui telah memiliki investasi besar di kawasan industri nikel seperti Morowali dan Pomalaa.

Pergerakan saham BLUE turut mencerminkan ekspektasi pasar. Harga saham perseroan dilaporkan melonjak 117% secara year to date dan hampir 1.900% dalam satu tahun terakhir. Meski begitu, saham BLUE sempat terkoreksi di tengah volatilitas pasar setelah pengumuman CSPA.

Bagi perusahaan global seperti Huayou dan CNGR, akuisisi emiten berkapitalisasi kecil dinilai lebih efisien dibanding melakukan penawaran umum perdana (IPO) baru. Melalui entitas yang sudah tercatat di Bursa Efek Indonesia, perusahaan dapat menghimpun dana dari investor domestik maupun institusi melalui rights issue untuk mendanai proyek hilirisasi nikel.

Keberadaan entitas publik juga dipandang dapat meningkatkan transparansi dan kepatuhan terhadap regulasi pasar modal, sekaligus memperkuat profil environmental, social, and governance (ESG) di mata investor global.