Pemerintah melalui Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) menggelar Media Background Discussion bersama Jakarta Foreign Correspondents Club (JFCC) di Jakarta, Kamis (12/3/2025). Kegiatan ini bertujuan mensosialisasikan arah serta nilai strategis Keketuaan Indonesia pada Developing-8 (D-8) Organization for Economic Cooperation periode 2026–2027.
Diskusi menghadirkan tiga narasumber, yakni Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral Kementerian Luar Negeri Tri Tharyat, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Bidang Diplomasi Multilateral Andi Anzhar Cakra Wijaya, serta Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Islam Internasional Indonesia Prof. Philips J. Vermonte.
Dalam keketuaannya, Indonesia mengusung tema Navigating Global Shifts: Strengthening Equality, Solidarity, and Cooperation for Shared Prosperity. Tri Tharyat menegaskan komitmen Indonesia untuk menjadikan D-8 sebagai platform kerja sama ekonomi Global South yang semakin relevan, kuat, dan tangguh. “Kepemimpinan Indonesia diharapkan mampu mendorong D-8 menjadi platform kerja sama ekonomi Global South yang semakin relevan, kuat, dan tangguh, serta berorientasi pada hasil nyata bagi seluruh negara anggotanya di tengah dinamika global,” ujar Tri.
Untuk mencapai target tersebut, pemerintah menetapkan lima prioritas utama Keketuaan Indonesia. Pertama, integrasi ekonomi dan perdagangan. Kedua, pengembangan ekonomi halal. Ketiga, kerja sama ekonomi biru, ketahanan pangan, dan transisi hijau. Keempat, peningkatan konektivitas dan kerja sama digital. Kelima, penguatan kelembagaan D-8.
Sejumlah program konkret juga disiapkan untuk mendukung agenda prioritas itu, termasuk peningkatan pemanfaatan D-8 Preferential Trade Agreement (PTA) serta kajian kelayakan menuju D-8 Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) guna memperkuat integrasi ekonomi antarnegera anggota.
Sejalan dengan itu, Andi Anzhar Cakra Wijaya menekankan pentingnya program yang berorientasi hasil. Ia menyampaikan Kadin Indonesia telah menyusun serangkaian program untuk mengeratkan jejaring business-to-business antarnegara D-8.
Sementara itu, Prof. Philips J. Vermonte menyoroti relevansi D-8 di tengah dinamika geopolitik saat ini. Ia menekankan perlunya Indonesia memperkuat kerja sama sesama anggota D-8 yang seluruhnya merupakan negara utama Global South.
D-8 merupakan organisasi kerja sama ekonomi yang beranggotakan Bangladesh, Mesir, Indonesia, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan, dan Turki. Azerbaijan resmi bergabung sebagai anggota kesembilan pada Maret 2025.
Secara kolektif, negara-negara anggota D-8 merepresentasikan lebih dari 1,3 miliar penduduk atau sekitar 16 persen populasi dunia, dengan total produk domestik bruto yang melampaui USD5 triliun.
Sumber: infopublik.id