BERITA TERKINI
Indikator Awal 2026 Menguat: PMI Manufaktur, Keyakinan Konsumen, dan Konsumsi Domestik Tetap Tumbuh

Indikator Awal 2026 Menguat: PMI Manufaktur, Keyakinan Konsumen, dan Konsumsi Domestik Tetap Tumbuh

Sejumlah indikator ekonomi domestik menunjukkan kinerja yang positif pada awal 2026, di tengah ketidakpastian global yang dipicu eskalasi geopolitik dan potensi gangguan rantai pasok. Pemerintah menilai kondisi ini menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan ekonomi Indonesia berada dalam fase ekspansi yang kuat sehingga dampak negatif gejolak global dinilai dapat dikendalikan. Menurutnya, situasi tersebut membantu Indonesia menghadapi risiko yang muncul dari dinamika geopolitik, termasuk di kawasan Timur Tengah.

Dari sisi manufaktur, Purchasing Managers Index (PMI) Indonesia tercatat 53,8 pada Februari 2026. Angka ini disebut sebagai yang tertinggi dalam dua tahun terakhir dan menandakan aktivitas industri masih berada pada fase ekspansif. Dalam pemaparan pada konferensi pers Rabu (11/3/2026), PMI Indonesia juga disebut lebih tinggi dibanding sejumlah ekonomi besar seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan Australia.

Optimisme juga tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen pada Februari yang mencapai 125,2. Posisi ini berada jauh di atas level 100 yang umumnya menjadi batas zona optimistis, menunjukkan keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi masih kuat.

Sementara itu, konsumsi rumah tangga turut menunjukkan tren peningkatan. Mandiri Spending Index pada Februari tercatat 360,7 poin, yang mencerminkan konsumsi tetap tumbuh, terutama pada sektor barang konsumsi, pendidikan, dan mobilitas masyarakat.

Purbaya menjelaskan, kenaikan belanja menjelang Ramadan menjadi salah satu indikator terjaganya daya beli masyarakat pada awal tahun. “Belanja masyarakat menjelang Ramadan didorong konsumsi consumer goods, pendidikan, dan mobilitas sehingga daya beli terlihat terus menguat,” ujarnya.

Meski demikian, pemerintah menyatakan tetap mewaspadai risiko eksternal, khususnya potensi gangguan rantai pasok global. Salah satu perhatian diarahkan pada ketegangan terkait Iran yang dinilai berisiko memicu penutupan jalur perdagangan strategis Selat Hormuz, yang dapat berdampak pada stabilitas ekonomi dan inflasi global.