Pasar komoditas pekan lalu bergerak fluktuatif dengan arah yang berlawanan antar-sektor. Harga perak jatuh di tengah tekanan lingkungan suku bunga tinggi, sementara harga kopi menguat seiring pengetatan pasokan. Pergerakan kontras ini turut mendorong Indeks MXV turun hampir 1,4% ke level 2.798 poin.
Data Bursa Komoditas Vietnam menunjukkan pasar logam menjadi sorotan investor domestik dan internasional, namun mayoritas komoditasnya melemah. Dari 10 komoditas, 9 ditutup di zona merah. Perak mencatat penurunan terdalam di pasar, anjlok lebih dari 14% dan memperpanjang tren turun selama delapan sesi berturut-turut. Pada penutupan perdagangan 20 Maret, harga perak COMEX menembus level US$70 per ounce untuk pertama kalinya sejak akhir 2025, turun ke US$69,7 per ounce.
Menurut MXV, tekanan pada perak dipengaruhi faktor makroekonomi dan arus kas. Inflasi inti AS yang masih tinggi mendorong Federal Reserve mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5–3,75%. Situasi ini mengerek imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun hingga 4,39%, sehingga meningkatkan biaya peluang dan membuat aset tanpa imbal hasil seperti logam mulia menjadi kurang menarik.
Di sisi lain, risiko gangguan pasokan energi di Timur Tengah menjaga harga minyak tetap tinggi dan memicu kekhawatiran stagflasi. Dalam kondisi tersebut, aliran modal disebut cenderung bergerak ke dolar AS dan obligasi, alih-alih logam mulia.
Tekanan jual juga tercermin dari pergerakan dana ETF berbasis perak. Per 21 Maret, jumlah perak fisik yang dipegang ETF turun 225 ton dibandingkan pekan sebelumnya menjadi 28.017 ton.
Meski demikian, pasar fisik menunjukkan pengetatan. China mengimpor lebih dari 790 ton perak dalam dua bulan pertama 2026, dengan rekor bulanan pada Februari sekitar 470 ton. Sementara itu, pasokan yang tersedia dilaporkan menurun, ditandai persediaan di SHFE yang turun 46% sepanjang tahun ini dan perak yang tersedia di COMEX turun 38% menjadi 2.463 ton.
Di pasar domestik, harga perak turut terkoreksi mengikuti tren global. Pada pagi 22 Maret, perak murni 999 bergerak di kisaran 2,194–2,229 juta VND per ounce, sedangkan batangan perak 999 berada di rentang 2,549–2,628 juta VND per ounce. Meski harga menurun, MXV mencatat tekanan beli dari investor individu tetap meningkat, mengindikasikan kecenderungan akumulasi pada harga yang lebih rendah.
Berbanding terbalik dengan logam, kelompok bahan baku industri cenderung menguat, terutama kopi. Kontrak Arabica Mei naik 8,63% menjadi US$6.828 per ton, sementara Robusta pada periode yang sama meningkat 6% menjadi US$6.664 per ton.
MXV menilai penguatan harga kopi dipicu efek lanjutan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz. Kenaikan harga minyak mentah disebut mendorong biaya input seperti solar, pupuk, dan perlengkapan pertanian, sehingga harga kopi menyesuaikan dengan tingkat biaya produksi yang baru.
Dari sisi pasokan, aktivitas ekspor negara produsen utama melemah. Di Brasil, harga kopi yang rendah dan penguatan Real disebut mengurangi momentum penjualan. Data Asosiasi Eksportir Kopi Brasil (CECAFE) menunjukkan ekspor biji kopi hijau—termasuk Arabica dan Robusta—turun 27% secara tahunan menjadi 137.670 ton.
Di Vietnam, data Departemen Bea Cukai mencatat ekspor kopi Februari mencapai 142.300 ton, turun 20% dibanding periode yang sama tahun lalu. Sementara Kolombia melaporkan penurunan lebih tajam, dengan ekspor Februari 48.420 ton atau 32% lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.
Persediaan global di bursa ICE juga masih menurun. Persediaan kopi Arabica, meski menunjukkan tanda pemulihan, tercatat hampir 30% lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu, yakni lebih dari 552.000 karung (60 kg per karung). Dari jumlah tersebut, kopi asal Brasil hanya sekitar 21.500 karung atau sekitar 4% dari total persediaan, yang mengindikasikan harga saat ini dinilai belum cukup menarik untuk mendorong eksportir mendaftarkan barang di bursa.
Selain faktor fundamental, arus spekulatif kembali masuk ke pasar. Berdasarkan laporan Komitmen Investor per 17 Maret, posisi net long dana manajemen uang di Arabica meningkat hampir 6.000 kontrak, setara sekitar 30%, menjadi 24.252 kontrak.
Di pasar domestik, harga biji kopi hijau curah di wilayah Dataran Tinggi Tengah naik 3.400 VND per kg pada pekan ini menjadi 94.000 VND per kg.