Perekonomian Indonesia pada 2025 disebut berada dalam fase penuh tantangan dan ketidakpastian. Tekanan dari luar negeri, mulai dari ketegangan geopolitik global, disrupsi rantai pasok, hingga fluktuasi harga energi dan pangan, dinilai turut memengaruhi stabilitas makroekonomi nasional.
Dari sisi domestik, perlambatan aktivitas manufaktur, pelemahan daya beli, serta rendahnya penyerapan tenaga kerja disebut menjadi faktor yang menahan laju pertumbuhan. Pada triwulan I 2025, pertumbuhan ekonomi tercatat sekitar 4,87%, di bawah target pemerintah.
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah menegaskan ambisi pertumbuhan ekonomi hingga 8% sebagai visi jangka menengah. Untuk mencapai target itu, diperlukan akselerasi sumber pertumbuhan baru yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Salah satu sektor yang dipandang berpotensi menjadi motor penggerak adalah ekonomi dan keuangan syariah. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor ini disebut menunjukkan perkembangan positif. Indonesia saat ini disebut menempati posisi tiga besar dunia dalam ekosistem ekonomi syariah, dengan pangsa aset keuangan syariah nasional mencapai lebih dari 11%.
Namun, potensi tersebut dinilai belum sepenuhnya teraktualisasi. Pangsa pasar keuangan syariah masih relatif kecil dibanding total industri keuangan nasional. Selain itu, rantai nilai industri halal, dana sosial umat, serta layanan haji dan umrah disebut masih menghadapi sejumlah kendala struktural dan tata kelola.
Merespons situasi itu, Center for Sharia Economic Development (CSED) INDEF dijadwalkan menyelenggarakan Sarasehan 99 Ekonom Syariah: Sharia Investment Forum 2026 pada Selasa, 24 Februari 2026. Kegiatan ini mengusung tema “Pengarusutamaan Ekonomi Syariah sebagai Pilar Baru Pertumbuhan Ekonomi Nasional”.
Acara tersebut rencananya dibuka oleh Kepala CSED INDEF Prof. Nur Hidayah dan Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti. Setelah itu, akan disampaikan keynote speech oleh Mantan Wakil Presiden RI ke-13 sekaligus Ketua Penasihat CSED INDEF, KH. Ma’ruf Amin.
Rangkaian kegiatan juga mencakup sesi diskusi yang menghadirkan regulator terkait dan pelaku industri untuk membahas isu-isu yang telah disiapkan, seperti ekonomi syariah, industri halal, dana sosial umat, serta ekosistem haji-umrah. Diskusi akan dipandu Senior Econom INDEF, Aviliani, sebagai moderator.
Penyelenggara menyatakan forum ini diharapkan menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan lembaga keuangan syariah untuk memperkuat ekosistem ekonomi syariah nasional. Melalui forum tersebut, diharapkan muncul rekomendasi dan strategi yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi berkeadilan sesuai nilai-nilai syariah.

