BERITA TERKINI
Implementasi AI di Bursa Saham: Auto Order Berparameter hingga Asisten Investasi di Aplikasi Sekuritas

Implementasi AI di Bursa Saham: Auto Order Berparameter hingga Asisten Investasi di Aplikasi Sekuritas

Pengembangan fitur berbasis kecerdasan buatan (AI) di layanan perdagangan saham terus berjalan, namun ruang geraknya masih dibatasi ketentuan regulator. Salah satu contoh adalah SPOT AI, yang hingga kini belum mengarah pada transaksi otomatis sepenuhnya berbasis analisis AI.

Menurut Bernad, regulator dan self regulatory organization (SRO) belum mengizinkan transaksi otomatis yang berjalan seperti robot trading tanpa kesadaran pengguna atas parameter yang dipakai. Meski demikian, SPOT sudah menyediakan fitur auto order berbasis parameter yang disiapkan tim, seperti set on stop loss, trailing stop, dan breakout.

“Itu parameter yang input kami sendiri, dengan kesadaran kami. Karena kalau kita melakukan input atau robot trading, yang tanpa kesadaran kami, parameternya apa, itu belum boleh,” ujar Bernad.

Secara global, penggunaan AI dalam perdagangan saham bukan hal baru, terutama di kalangan investor institusi yang telah lama memanfaatkan skema algo trading. Studi dari LiquidityFinder menyebut lebih dari 80 persen institusi keuangan menggunakan AI dengan batasan tertentu. Di sisi lain, pemanfaatan AI untuk investor ritel dinilai masih merupakan terobosan.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Bursa Efek Indonesia (BEI), Irvan Susandy, menjelaskan bahwa bursa saat ini memperkenankan anggota bursa (AB) menyediakan fitur perdagangan otomatis hanya dengan dasar parameter tertentu atau strategi AB dan/atau nasabah. Contohnya, ketika harga saham menyentuh level tertentu, sistem dapat otomatis melakukan order jual atau beli.

Irvan menekankan, setiap strategi yang digunakan dalam automated ordering harus terlebih dahulu diajukan untuk ditinjau bursa sebelum diterapkan. “Setiap strategi yang dipergunakan oleh AB dalam rangka automated ordering, harus terlebih dahulu diajukan review kepada bursa sebelum diimplementasikan,” katanya.

Kebijakan tersebut menjadi salah satu alasan PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia (MASI) berdiskusi dan berkonsultasi lebih dulu dengan BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelum mengembangkan Mirae Asset Intelligent Assistant (MAIA) di aplikasi M-STOCK.

MAIA dirancang untuk klien ritel MASI yang memiliki waktu terbatas sehingga kesulitan menganalisis portofolio saham secara rutin. Fitur ini didukung agen AI berdasarkan strategi serta profil risiko masing-masing investor atau trader.

Sebelum dirilis pada Desember 2024, pengembangan MAIA memakan waktu sekitar 15 bulan. Senior Vice President & Head of Business Development Department MASI, Wisnu Aditya, menyebut pencarian mesin AI cikal bakal MAIA dimulai sejak September 2023. Tim melakukan riset dan mengunjungi berbagai negara berdasarkan referensi mitra.

Wisnu menilai fase tersebut menantang bukan karena keterbatasan penyedia, melainkan karena perlu mempertimbangkan tiga aspek: performa dan kapabilitas, kepatuhan terhadap regulasi pasar modal Indonesia, serta uji coba yang komprehensif.

Setelah meninjau berbagai mesin serupa, MASI memutuskan membeli mesin buatan eks fund manager asal Singapura pada awal kuartal I 2024. Pertimbangan utamanya, pengalaman pengembang dinilai membuat algoritma lebih memahami cara kerja pasar, performanya disebut telah teruji dan meraih sejumlah penghargaan, serta digunakan oleh berbagai sekuritas di Amerika, Eropa, Hong Kong, Taiwan, dan Singapura.

Wisnu menjelaskan keputusan membeli alih-alih bermitra didasari alasan keamanan dan efisiensi biaya. Dengan membeli, MASI hanya menanggung investasi awal, berbeda dengan skema sewa yang umumnya disertai profit sharing.

Tantangan berikutnya adalah memperoleh persetujuan regulator. MASI harus menanggung risiko bahwa investasi pembelian mesin dapat menjadi sia-sia jika pengembangan fitur tidak diizinkan. Meski demikian, Wisnu menyebut investasi tersebut tidak signifikan terhadap pendapatan dan profit perusahaan. Ia menganalogikan biaya operasional tahunannya setara gaji satu staf, sedangkan investasi awalnya seperti “gaji satu bos”.

“Semua pengembangan selalu ada risiko seperti itu, sama juga dengan in-house development,” kata Wisnu. “Jadi kami memutuskan, ini worth the risk. Risikonya juga manageable. Karena kami juga tahu kok, ini sejalan dengan peraturan.”

MASI baru dapat memaparkan cara kerja fitur kepada regulator setelah memperoleh persetujuan induk usaha di Korea Selatan. Setelah itu, perusahaan memenuhi dokumen legalitas dan melakukan konsultasi luring serta daring dengan SRO dan OJK secara paralel. Tim transformasi digital MASI kemudian memasang mesin tersebut ke platform M-STOCK.

Fitur tersebut selanjutnya diuji, diulas pihak independen, dilaporkan ke bursa, dan menjalani fase mock test yang dilakukan beberapa kali pada akhir pekan bersama SRO. Wisnu menyebut presentasi kepada SRO dan OJK dilakukan tujuh kali hingga akhirnya memperoleh lampu hijau untuk go live dan dirilis pada Desember 2024.

Pada tahap awal, MASI merilis satu MAIA, yakni Market Neutral. Per Agustus 2025, masih ada lima MAIA lain dalam tahap uji coba internal. Wisnu menyatakan MASI telah mendapat lampu hijau regulator untuk merilis lima MAIA dengan strategi Swing Strategy, High Frequency Trading, Ultra Scalp, Scalp Max, dan Market Neutral Aggressive.

Secara statistik, win-loss ratio enam MAIA disebut berada di kisaran 70–100 persen, tergantung strategi. Strategi yang lebih konservatif disebut mendekati 100 persen dengan frekuensi lebih sedikit, sedangkan strategi lebih agresif mendekati 70 persen dengan frekuensi lebih banyak. Tingkat adopsi fitur juga disebut meningkat sejak April 2025 saat pasar sempat lesu.

Terkait dampaknya terhadap pertumbuhan pengguna M-STOCK, Wisnu menyatakan jumlah pengguna meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak Desember 2024 hingga pertengahan Agustus 2025.

Ketika ditanya apakah fitur tersebut masuk dalam kriteria order otomatis sebagaimana dimaksud BEI, Irvan menyebut hasil peninjauan tim bursa menyatakan iya. “Berarti fiturnya adalah automated trading,” kata Irvan.