BERITA TERKINI
IMF: Ekonomi Indonesia Peringkat 7 Dunia Berdasarkan PPP, Capai US$5,36 Triliun

IMF: Ekonomi Indonesia Peringkat 7 Dunia Berdasarkan PPP, Capai US$5,36 Triliun

Indonesia mencatat posisi baru dalam peta ekonomi global. Berdasarkan data International Monetary Fund (IMF) dalam laporan World Economic Outlook, ukuran ekonomi Indonesia berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) mencapai sekitar US$5,36 triliun atau setara US$5.358,3 miliar. Dengan angka tersebut, Indonesia menempati peringkat ke-7 ekonomi terbesar di dunia versi PPP.

Peringkat ini menempatkan Indonesia di atas sejumlah negara maju di Eropa maupun negara-negara di Amerika Latin. Capaian tersebut juga memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi di Asia Tenggara.

Analisis Visual Capitalist menyoroti bahwa sejumlah negara berkembang seperti Indonesia, Brasil, Meksiko, dan Vietnam memperoleh dorongan signifikan dalam penghitungan PPP. Salah satu faktor yang disebut berpengaruh adalah harga barang dan jasa yang relatif lebih murah dibandingkan negara maju, sehingga daya beli domestik terlihat lebih besar dalam ukuran PPP.

Di sisi lain, beberapa negara Eropa seperti Jerman dan Inggris disebut mengalami penurunan posisi dalam pemeringkatan berbasis PPP. Analisis itu mengaitkannya dengan tingginya biaya hidup di kawasan tersebut.

Data yang sama juga menggambarkan pergeseran keseimbangan ekonomi global dengan Asia yang semakin dominan. Sejumlah negara Asia masuk dalam 15 besar ekonomi dunia, di antaranya China, India, Jepang, Indonesia, dan Korea Selatan. Sementara itu, di Eropa, Rusia tercatat sebagai ekonomi terbesar berdasarkan PPP dan berada di peringkat ke-4 dunia, melampaui Jerman dan Inggris.

Kontribusi Afrika terhadap ekonomi global masih relatif kecil, sekitar 6 persen. Meski demikian, beberapa negara seperti Mesir, Nigeria, dan Afrika Selatan masih tercantum dalam daftar 20 ekonomi terbesar dunia berbasis PPP.

Bagi Indonesia, posisi peringkat ke-7 dinilai membuka peluang untuk menarik investasi global, terutama dengan dukungan populasi besar dan pasar domestik yang kuat. Namun, tantangan seperti pembangunan infrastruktur, peningkatan produktivitas, serta pengurangan ketimpangan ekonomi tetap menjadi pekerjaan rumah.

IMF memproyeksikan negara-negara emerging markets, termasuk Indonesia, akan mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas 4 persen per tahun dalam beberapa waktu ke depan. Visual Capitalist menilai tren tersebut menandai perubahan besar dalam peta ekonomi dunia, seiring Asia yang disebut semakin menjadi pusat perdagangan dan produksi internasional.