Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal 2026 tercatat melemah. Hingga Rabu, 25 Februari 2026, IHSG membukukan return negatif 3,66 persen secara year to date (ytd), sehingga masuk jajaran indeks berkinerja terburuk di antara bursa saham global.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp18,64 triliun di pasar reguler sepanjang tahun berjalan. Minimnya minat investasi asing disebut menjadi salah satu faktor yang menekan pergerakan pasar saham domestik.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi sasaran penjualan asing pada periode Januari hingga Februari 2026. Di antaranya saham Bank Central Asia (BBCA) dengan nilai jual bersih Rp16,2 triliun, Bumi Resources (BUMI) Rp7,77 triliun, Bank Mandiri (BMRI) Rp1,36 triliun, serta Bank Negara Indonesia (BBNI) Rp1,05 triliun.
Berdasarkan data Bloomberg, pelemahan IHSG kontras dengan kinerja sejumlah indeks lain di kawasan maupun global. Indeks Kospi Korea Selatan tercatat melonjak 44,85 persen ytd, sementara indeks Taiwan menguat 21,77 persen. Di wilayah lain, Borsa Istanbul 100 naik 24,77 persen. Adapun indeks acuan Amerika Serikat juga mencatat kenaikan, dengan Dow Jones Industrial Average menguat 2,31 persen dan S&P 500 naik 0,65 persen sepanjang 2026.
Dari sisi domestik, sentimen negatif turut dipengaruhi realisasi defisit APBN 2025 yang mencapai Rp695,1 triliun atau 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), mendekati batas 3 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibanding defisit 2024 sebesar Rp509,1 triliun atau 2,3 persen terhadap PDB.
Kondisi itu memunculkan kekhawatiran pasar terhadap kebutuhan pembiayaan utang pemerintah serta potensi penyempitan likuiditas di pasar keuangan. Selain itu, MSCI membekukan kebijakan indeks saham Indonesia terkait isu transparansi kepemilikan saham dan free float. MSCI memberikan tenggat hingga Mei 2026 untuk perbaikan, dengan risiko penurunan klasifikasi Indonesia dari kategori Emerging Markets menjadi Frontier Market apabila ketentuan tidak terpenuhi.
Dengan kombinasi tekanan global dan domestik tersebut, IHSG tercatat sebagai salah satu indeks dengan kinerja paling lemah pada awal tahun ini.

