BERITA TERKINI
IHSG Tertekan Beruntun: Sentimen MSCI, Moody’s, Konflik AS-Iran, hingga Revisi Outlook Fitch

IHSG Tertekan Beruntun: Sentimen MSCI, Moody’s, Konflik AS-Iran, hingga Revisi Outlook Fitch

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan beruntun dalam beberapa waktu terakhir. Setelah sempat mencetak rekor baru di level 9.002 pada 8 Januari 2026, pergerakan IHSG kemudian berbalik terkoreksi seiring munculnya sejumlah sentimen global dan penilaian lembaga pemeringkat terhadap Indonesia.

Pada awal tahun, penguatan IHSG ditopang masuknya dana asing serta menguatnya saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya emiten konglomerasi. Namun, menjelang akhir Januari 2026, pasar saham Indonesia mulai tertekan setelah adanya kebijakan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Pada 28 Januari, IHSG sempat anjlok 7% pada perdagangan pagi. Pergerakan tersebut dikaitkan dengan sentimen dari MSCI yang sehari sebelumnya mengumumkan pembekuan sementara pasar saham Indonesia dengan sejumlah perubahan dalam proses rebalancing indeks. Kebijakan itu berlaku untuk indeks review Februari 2026, antara lain membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), menghentikan penambahan konstituen baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta membekukan perpindahan naik antar segmen ukuran indeks, termasuk dari Small Cap ke Standard.

Dalam pengumuman resminya, MSCI menyatakan perlakuan tersebut bertujuan mengurangi risiko perputaran indeks dan risiko investasi, sekaligus memberi waktu bagi otoritas pasar terkait untuk meningkatkan transparansi. Sehari kemudian, Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali melakukan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) pada Kamis, 29 Januari, ketika IHSG merosot 8% ke posisi 7.654,66.

Setelah rangkaian penurunan tersebut, Direktur Utama BEI Iman Rachman mengundurkan diri pada 30 Januari. Pengunduran diri itu diikuti Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon (KE PMDK) Inarno Djajadi, serta Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon (DKTK) Aditya Jayaantara, yang disebut sebagai bentuk tanggung jawab moral.

Tekanan terhadap IHSG berlanjut pada 5 Februari 2026 ketika Moody’s Investor Service memangkas outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Pada sesi I hari itu, IHSG turun 2,83% ke level 7.874,41. Pada saat yang sama, rupiah melemah 44 poin atau 0,26% menjadi Rp16.886 per dolar AS.

Mengutip Bloomberg, imbal hasil obligasi 10 tahun naik 11 basis poin ke level tertinggi empat bulan. Biaya asuransi utang negara Indonesia juga naik sekitar 4,3 basis poin menjadi sekitar 80 basis poin, yang disebut menjadi kenaikan terbesar di antara negara-negara Asia. Rajeev De Mello, manajer portofolio makro global di Gama Asset Management SA, mengatakan ia memperkirakan pembuat kebijakan Indonesia akan peka terhadap persepsi asing mengenai situasi domestik dan bereaksi sesuai dengan itu.

Sentimen negatif kemudian bertambah akibat memanasnya konflik di Timur Tengah. Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran melalui operasi besar-besaran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Dampaknya terlihat pada perdagangan Senin, 2 Maret, ketika IHSG ditutup turun 218,65 poin (2,66%) ke level 8.016. Indeks LQ45 juga melemah 21,86 poin (2,62%) ke 812.

Serangan Iran ke kawasan teluk turut memicu lonjakan harga sejumlah komoditas. Harga minyak mentah disebut meroket 10%, emas global mendekati USD 6.000, sementara harga minyak kedelai menembus rekor baru.

Tekanan terbaru datang setelah Fitch Ratings merevisi outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, meski peringkat Long-Term Foreign-Currency Issuer Default Rating (IDR) tetap di level BBB. Fitch menyatakan revisi outlook mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan kekhawatiran mengenai terkikisnya konsistensi serta kredibilitas bauran kebijakan Indonesia di tengah meningkatnya sentralisasi otoritas pembuatan kebijakan.

Fitch menilai kondisi tersebut berpotensi melemahkan prospek fiskal jangka menengah, menekan sentimen investor, dan memberi tekanan pada cadangan eksternal. Namun, lembaga itu juga menyebut penegasan peringkat mencerminkan rekam jejak Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi, pertumbuhan jangka menengah yang dinilai menguntungkan, rasio utang pemerintah terhadap PDB yang moderat, serta cadangan eksternal yang moderat.

Pada perdagangan Rabu, 4 Maret, IHSG kembali melemah. Berdasarkan data RTI pukul 11.53 WIB, IHSG terjun 4,03% ke level 7.619,885. IHSG dibuka di 7.896,377 dan sempat menyentuh posisi terendah 7.584,85, dengan tekanan disebut terkait kondisi pasar global seiring memanasnya konflik di Timur Tengah.