BERITA TERKINI
IHSG Berpeluang Menguat, Ditopang Data Penerimaan Pajak Januari 2026

IHSG Berpeluang Menguat, Ditopang Data Penerimaan Pajak Januari 2026

Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa berpotensi bergerak menguat seiring data ekonomi domestik yang dinilai solid. Pada pembukaan perdagangan, IHSG naik 31,97 poin atau 0,38 persen ke level 8.428,05. Sementara Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan menguat 0,92 poin atau 0,11 persen ke posisi 848,68.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menyebut, secara teknikal IHSG berpeluang menguat secara terbatas. Ia memproyeksikan area support dan resistance berada pada rentang 8.310–8.450, seraya mengingatkan potensi koreksi masih terbuka.

Dari sisi domestik, Kementerian Keuangan mencatat penerimaan pajak Januari 2026 mencapai Rp116,2 triliun, tumbuh 30,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) atau setara 4,9 persen dari target APBN 2026. Kenaikan terutama ditopang oleh penerimaan PPN dan PPnBM yang melonjak 83,9 persen (yoy) menjadi Rp45,3 triliun, yang mencerminkan konsumsi domestik tetap kuat. Selain itu, restitusi tercatat turun 23 persen seiring perbaikan manajemen restitusi.

Penerimaan PPh badan tercatat tumbuh 37 persen (yoy) menjadi Rp5,7 triliun. Sementara itu, PPh orang pribadi dan PPh21 sebesar Rp13,1 triliun masih terkontraksi 20,4 persen (yoy) akibat faktor administratif, termasuk deposit Rp6,1 triliun yang belum dipindahbukukan. Jika disesuaikan, pertumbuhannya disebut dapat mencapai 16,5 persen (yoy).

Adapun PPh final, PPh 22, dan PPh 26 turun 11 persen (yoy) menjadi Rp26 triliun. Pajak lainnya melonjak 685,8 persen (yoy) menjadi Rp16,1 triliun, dengan tambahan deposit Rp15,4 triliun yang juga belum dipindahbukukan.

Nico menilai kinerja penerimaan pajak pada Januari 2026 memberikan sinyal awal yang cukup kuat, terutama dari sisi konsumsi yang tercermin dalam lonjakan PPN dan PPnBM. Meski demikian, ia menekankan perlunya mencermati faktor teknis yang turut memengaruhi angka pertumbuhan, seperti penurunan restitusi serta belum dipindahbukukannya sejumlah deposit pajak.

Dari eksternal, Nico menyampaikan kekhawatiran pasar terkait dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap keuntungan perusahaan, ditambah ketidakpastian sikap Amerika Serikat mengenai tarif, turut menekan pasar saham global. Kondisi tersebut disebut berkontribusi pada pelemahan bursa saham Wall Street pada perdagangan Senin (23/2/2026).

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan rencana mengganti tarif sebelumnya dengan tarif baru sebesar 15 persen yang berlaku menyeluruh untuk semua impor AS. Menurut Nico, kebijakan tersebut dapat menguntungkan negara-negara yang sebelumnya mendapatkan tarif tinggi dari AS, seperti Tiongkok, Uni Eropa, dan India.

Pada perdagangan Senin (23/2/2026), bursa saham Eropa ditutup melemah. Euro Stoxx 50 turun 0,24 persen, FTSE 100 Inggris turun 0,02 persen, DAX Jerman melemah 1,06 persen, dan CAC turun 0,22 persen.

Pelemahan juga terjadi di Wall Street. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,66 persen ke 48.804,06, S&P 500 melemah 1,04 persen ke 6.837,75, dan Nasdaq Composite terkoreksi 1,21 persen ke 24.708,94.