Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam pada perdagangan sesi pertama Rabu (4/3). IHSG turun 4,32% atau 343,19 poin ke level 7.596. Dalam perdagangan intraday, indeks sempat merosot hingga 4,41% ke posisi 7.588 pada pukul 10.26 WIB.
Pelemahan yang terjadi dalam waktu singkat tersebut diikuti tekanan jual di berbagai sektor dan memicu kekhawatiran pelaku pasar. Sejumlah sentimen dinilai turut mendorong volatilitas, mulai dari kabar terkait Fitch Ratings hingga isu free float pada sejumlah emiten.
Di tengah pelemahan IHSG, beredar kabar bahwa Fitch Ratings menurunkan outlook peringkat utang Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil, meski mempertahankan Long-Term Foreign Currency Issuer Default Rating (IDR) di level BBB. Dalam draft yang beredar, penurunan outlook disebut dipicu meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta kekhawatiran terhadap arah kebijakan ekonomi di tengah sentralisasi pengambilan keputusan.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi melemahkan prospek fiskal jangka menengah, merusak sentimen pasar, serta memberi tekanan pada bantalan eksternal. Namun, dipertahankannya peringkat BBB mengindikasikan fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih relatif kuat, dengan sejumlah faktor penopang seperti stabilitas makroekonomi yang terjaga, prospek pertumbuhan jangka menengah yang cukup baik, rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) yang moderat, serta posisi eksternal yang memadai.
Selain sentimen Fitch, perhatian pasar juga tertuju pada kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang membuka transparansi kepemilikan saham hingga 1%. Sebelumnya, data kepemilikan investor dibuka sampai 5%. Tambahan data kepemilikan 1% tersebut disebut dimiliki individu tertentu yang tidak dapat dihitung sebagai bagian dari free float publik, sehingga pada sejumlah emiten free float terlihat lebih kecil dari perkiraan pasar.
Jika penurunan free float terjadi pada saham-saham yang masuk indeks besar seperti LQ45 atau MSCI, potensi perubahan perhitungan free float market cap dapat memicu arus keluar dana (outflow) dan meningkatkan volatilitas IHSG dalam jangka pendek.
Tekanan eksternal turut memperburuk situasi. Pergerakan IHSG disebut sejalan dengan pelemahan sejumlah indeks regional yang ikut terkoreksi tajam. Eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah, termasuk kekhawatiran gangguan pasokan energi global, mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan sentimen risk-off di pasar.

