Jakarta — Menjelang berakhirnya Februari 2026, belum ada satu pun saham baru yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak awal tahun. Kondisi ini menjadi sorotan mengingat dua bulan pertama biasanya menjadi periode yang ramai untuk penawaran umum perdana saham (IPO).
Berdasarkan catatan aktivitas IPO pada Januari dan Februari dalam lima tahun terakhir (2021–2025), total terdapat 79 saham yang tercatat di bursa hanya dalam dua bulan pertama setiap tahunnya. Tren tersebut menunjukkan bahwa awal tahun kerap menjadi momentum favorit perusahaan untuk masuk pasar modal.
Rinciannya, pada 2021 terdapat 9 IPO pada Januari–Februari. Tahun 2022 mencatat 7 IPO pada periode yang sama. Pada 2023, jumlahnya melonjak menjadi 20 IPO, sementara 2024 mencatat 19 IPO. Adapun pada 2025, terdapat 8 IPO pada Januari dan tidak ada IPO pada Februari.
Dari pola tersebut, puncak aktivitas terlihat pada 2023 dan 2024 yang masing-masing mendekati 20 IPO hanya dalam dua bulan pertama tahun berjalan. Situasi itu memperkuat gambaran bahwa awal tahun sering dimanfaatkan emiten, baik karena optimisme pasar, window dressing, maupun strategi penggalangan dana saat sentimen dinilai masih relatif segar.
Namun, pada 2026 situasinya berbeda. Sejak peristiwa yang disebut sebagai MSCI Crash, langkah perusahaan yang berencana melantai di bursa dinilai meredup. Sejumlah calon emiten yang sudah masuk pipeline disebut cenderung memilih berbenah terlebih dahulu, terutama untuk memastikan struktur free float yang lebih jelas serta proporsi kepemilikan publik yang lebih solid.
Penataan ini dipandang penting agar saat resmi tercatat, saham yang ditawarkan tidak hanya memenuhi ketentuan indeks, tetapi juga mencerminkan likuiditas serta tata kelola yang lebih sehat di mata investor.
Di tengah perlambatan IPO pada awal tahun, BEI masih menargetkan jumlah IPO sepanjang tahun ini dapat mencapai 50 emiten. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibanding realisasi tahun lalu yang berjumlah 26 emiten.
Meski belum ada IPO hingga mendekati akhir Februari, antrean pencatatan disebut tetap terisi. Tercatat ada delapan calon emiten yang sedang berada dalam pipeline. Dari sisi sektoral, komposisinya disebut beragam, mencerminkan minat lintas sektor yang masih terjaga dan tidak terkonsentrasi pada satu industri tertentu.

