JAKARTA — Kenaikan harga kebutuhan pokok selama Ramadhan menjadi tantangan bagi banyak orang dalam mengatur keuangan. Di saat harga bahan pangan meningkat, kebutuhan konsumsi masyarakat juga cenderung bertambah karena harus menyiapkan menu sahur dan berbuka puasa.
Selain itu, pengeluaran sering kali membengkak akibat kebiasaan membeli takjil untuk berbuka. Kondisi tersebut membuat keuangan sebagian orang menjadi kurang stabil selama Ramadhan.
Desiana (31), warga Manggarai, mengaku pengeluarannya lebih boros saat Ramadhan. “Jadi, buat buka tuh beli apa saja, tapi ujung-ujungnya enggak dimakan, itu sih yang kayaknya bikin boros,” kata Desiana saat ditemui di Jakarta Selatan, Senin (23/2/2026). Ia menyebut, pada hari biasa dirinya bisa lebih hemat karena membeli makanan sesuai kebutuhan.
Hal serupa disampaikan Joharia (54), warga Jakarta Selatan, yang mengaku perlu mengeluarkan uang ekstra selama Ramadhan karena membeli takjil setiap hari. “Kalau hari biasa kan makan aja, meski dua sampai tiga kali, tapi enggak harus ada es, gorengan, kolak, dan lainnya, jadi banyak tambahannya. Kalau enggak ada takjil kan rasanya buka puasa kurang nikmat,” ujarnya.
Selama Ramadhan, Joharia memperkirakan pengeluaran hariannya mencapai sekitar Rp100.000 untuk membeli takjil serta menyiapkan menu sahur dan berbuka. Angka ini lebih tinggi dibanding hari biasa, ketika kebutuhan makan keluarganya sekitar Rp50.000 per hari.
Perencana Keuangan dari Finante.ic, Rista Zwestika, menilai secara logika Ramadhan seharusnya bisa menjadi bulan yang lebih hemat karena frekuensi makan berkurang menjadi dua kali, yakni saat sahur dan berbuka. Namun, ia mencatat kenyataannya Ramadhan justru kerap menjadi bulan paling boros dibandingkan bulan lainnya.
Untuk menjaga kondisi finansial tetap stabil, Rista menyarankan masyarakat lebih menyadari setiap pengeluaran yang dilakukan dan menilai apakah pengeluaran tersebut benar-benar kebutuhan atau sekadar keinginan.
Menurut Rista, pemborosan umumnya dipicu oleh pembelian takjil secara impulsif setiap sore, terlalu sering menghadiri acara buka bersama, belanja hampers dan kue Lebaran, membeli pakaian baru karena mendapat Tunjangan Hari Raya (THR), hingga sedekah tanpa perencanaan.

