BERITA TERKINI
Harga Minyak Dunia Bertahan Tinggi, Rupiah dan IHSG Tertekan di Awal Pekan

Harga Minyak Dunia Bertahan Tinggi, Rupiah dan IHSG Tertekan di Awal Pekan

Pasar keuangan domestik masih menghadapi tekanan pada awal pekan seiring bertahannya harga minyak mentah dunia di level tinggi. Pengamat ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai kenaikan harga minyak menjadi faktor utama yang membebani pergerakan aset keuangan di dalam negeri.

Gunawan menyebut harga minyak mentah Brent masih bertahan di atas 100 dolar AS per barel. Ia menilai kondisi tersebut dipengaruhi pernyataan Presiden Amerika Serikat yang mengancam akan menyerang infrastruktur pendukung ekspor minyak Iran, sehingga membuat harga minyak dunia tetap mahal.

Menurutnya, penguatan harga energi global turut menekan nilai tukar rupiah dan kinerja pasar saham Indonesia. Pada perdagangan Senin (16/3/2026), rupiah ditutup melemah di kisaran Rp16.985 per dolar AS. Sepanjang sesi, rupiah sempat beberapa kali mencoba menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS, namun tertahan di sekitar Rp16.995.

Gunawan menjelaskan, tekanan di pasar keuangan domestik juga tidak terlepas dari konflik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah yang memicu ketidakpastian global.

Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut melemah. Pada perdagangan hari ini, IHSG ditutup turun sekitar 1,61 persen ke level 7.022,288. Gunawan menilai level psikologis 7.000 menjadi batas penting bagi pergerakan IHSG dalam jangka pendek dan secara teknikal berpotensi menahan tekanan yang berasal dari pelemahan bursa saham global.

Sementara itu, harga emas dunia relatif bertahan di kisaran 5.000 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,75 juta per gram. Gunawan mengatakan, emas sejauh ini masih mampu bertahan di tengah tekanan yang dipicu oleh lonjakan harga komoditas energi.

Dalam jangka pendek, pelaku pasar diperkirakan mencermati dampak kenaikan harga minyak mentah terhadap arah kebijakan moneter bank sentral di berbagai negara. Namun dalam jangka menengah hingga panjang, ia menilai jika sentimen pemicu kenaikan harga minyak mereda dan harga kembali menemukan titik keseimbangan baru, kondisi tersebut berpotensi menjadi sentimen positif bagi pergerakan harga emas.