JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tajam pada pembukaan perdagangan Rabu (4/3/2026) dan sempat menyentuh level 7.500 di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah. Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai tekanan pasar dipicu sentimen geopolitik global yang memunculkan kekhawatiran terhadap potensi krisis energi.
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy, mengatakan pelemahan tersebut berkaitan dengan meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Ia menyebut penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadi faktor yang mendorong kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi.
“Hal ini merupakan dampak dari eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah yang terus memanas, dan Iran menutup selat Hormuz yang menyebabkan kekhawatiran munculnya krisis energi. Hal ini sudah tercermin di harga minyak dunia yang meningkat,” kata Irvan, Rabu (4/3/2026).
Menurut Irvan, tekanan pasar tidak hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah bursa regional juga mengalami pelemahan, termasuk Kospi, SET, Kosdaq, Nikkei, Taiwan TAEIX, dan ASX.
Ia menambahkan, di Korea Selatan, indeks sempat mengalami penghentian sementara perdagangan (trading halt) setelah turun lebih dari 8%.

