BERITA TERKINI
Ekonomi Perang: Konflik Iran-Israel dan Imbasnya ke Energi Global hingga Risiko bagi Indonesia

Ekonomi Perang: Konflik Iran-Israel dan Imbasnya ke Energi Global hingga Risiko bagi Indonesia

Ketegangan geopolitik global disebut sudah berada dalam kondisi rapuh bahkan sebelum perang Iran-Israel pecah. Sejumlah dinamika seperti perang dagang, perang energi, perang teknologi, hingga perebutan supremasi dinilai telah membentuk situasi ekonomi dunia yang tidak aman.

Dunia kini memasuki masa transisi geopolitik dan geoekonomi. Sistem ekonomi global yang selama beberapa dekade didorong kekuatan multilateral bergerak menuju konfigurasi multipolar yang lebih kompleks. Dalam konteks itu, konflik di Timur Tengah—terutama perang antara Israel dan Iran—dipandang sebagai titik krusial yang tidak hanya berdampak pada keamanan kawasan, tetapi juga berimplikasi luas terhadap stabilitas ekonomi global, perdagangan, redistribusi populasi, serta potensi krisis ekonomi dunia.

Konflik Timur Tengah disebut berakar pada perebutan sumber daya energi dan perluasan pasar oleh kekuatan besar, khususnya Amerika Serikat (AS), China, Eropa Barat, dan Rusia. AS dan China memiliki kepentingan besar menjaga stabilitas pasokan energi untuk menopang pertumbuhan ekonomi masing-masing. Disebutkan, lebih dari 70% konsumsi minyak China berasal dari impor, dengan sebagian besar pasokan berasal dari Rusia, Iran, dan Venezuela. Produksi minyak tersebut disebut berpotensi direbut AS secara paksa.

Di sisi lain, Rusia dan China dinilai memiliki kepentingan strategis untuk menyeimbangkan pengaruh AS di Timur Tengah, meski keterlibatan keduanya lebih sering berbentuk diplomatik dan ekonomi dibandingkan keterlibatan militer langsung. Iran juga disebut memperkuat hubungan perdagangan dan geopolitik dengan Rusia dan China dalam berbagai bidang. Meski telah dikenai sanksi ekonomi dan embargo perdagangan, Iran dinilai tetap memiliki kekuatan ekonomi, teknologi, dan militer, serta telah menyiapkan strategi jangka panjang dalam kerangka “economic of war”.

Timur Tengah sebagai pusat energi dunia

Salah satu alasan utama mengapa konflik di Timur Tengah berdampak global adalah posisi kawasan itu dalam sistem energi dunia. Iran, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab berada di wilayah sekitar 5,1 juta kilometer persegi atau sekitar 3,4% dari luas permukaan bumi, namun menyimpan kekayaan energi besar. Kawasan ini disebut menguasai sekitar 48% cadangan minyak dunia dan 38% cadangan gas alam global. Selain itu, lima dari 10 produsen minyak terbesar dunia berada di Timur Tengah.

Dari sisi produksi, Timur Tengah disebut menyumbang sekitar 26% produksi minyak dunia. Arab Saudi menjadi produsen utama dengan sekitar 11 juta barel per hari atau sekitar 11% produksi global. Iran disebut memproduksi mendekati 4 juta barel per hari, meski kapasitasnya kerap terhambat sanksi ekonomi internasional.

Selain sebagai pusat produksi, kawasan ini juga strategis untuk distribusi energi global, terutama melalui Selat Hormuz yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar internasional. Karena itu, gangguan pada produksi dan distribusi minyak di Timur Tengah berpotensi mengganggu pasokan energi global dan mendorong kenaikan harga.

Sejumlah analis memperkirakan harga minyak dapat menembus US$ 100 per barel atau lebih jika gangguan pasokan berlanjut. Kondisi tersebut berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global dan memicu krisis dunia.

Persaingan meluas ke mineral kritis

Persaingan geopolitik dinilai tidak lagi terbatas pada minyak dan gas, tetapi juga meluas ke mineral kritis seperti litium, nikel, kobalt, grafit, dan rare earths. Komoditas ini menjadi bahan utama teknologi transisi energi, mulai dari kendaraan listrik, baterai, hingga jaringan listrik modern.

Pada 2024, permintaan litium disebut naik hampir 30%, sementara nikel, kobalt, dan grafit meningkat sekitar 6–8%, terutama didorong sektor energi seperti kendaraan listrik dan penyimpanan baterai.

Meski demikian, sebagian analis memperkirakan konflik kemungkinan tetap terbatas karena perang besar akan merugikan semua pihak secara ekonomi. Namun, disebut pula bahwa Iran, Israel, dan AS siap menghadapi perang jangka panjang. Rusia—yang dinilai berpengalaman dalam perang berkepanjangan di Ukraina—disebut akan “mendukung” dan mengambil manfaat dari perang jangka panjang di Timur Tengah.

Dampak geoekonomi bagi Indonesia

Sebagai negara berkembang dengan perekonomian terbuka, Indonesia dinilai akan terdampak gejolak global melalui beberapa jalur. Pertama, kenaikan harga minyak. Indonesia masih bergantung pada impor minyak karena produksi domestik tidak mencukupi kebutuhan nasional.

Kedua, pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatnya volatilitas pasar keuangan. Konflik geopolitik biasanya meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman, sementara investor cenderung memindahkan modal ke instrumen yang dianggap lebih aman (flight to quality).

Ketiga, tekanan terhadap keberlangsungan APBN. Kenaikan harga energi berpotensi membuat subsidi BBM dan listrik membengkak. Jika pasar keuangan terus terganggu, biaya bunga utang pemerintah juga berpotensi meningkat.

Dalam artikel ini disebutkan, berbeda dengan krisis global 2008 yang masih memiliki ruang solusi melalui kerja sama global, pada 2026 tidak dapat diharapkan adanya solusi dari G20 maupun lembaga multilateral. Karena itu, strategi Indonesia diarahkan untuk bertahan dalam masa perang menuju kemandirian ekonomi.

Langkah yang disebut perlu ditempuh

Strategi yang diuraikan mencakup tiga fokus. Pertama, penyelamatan APBN 2026. APBN disebut menjadi sumber kepercayaan ekonomi sekaligus instrumen pemulihan. Kenaikan nilai ekspor komoditas sumber daya alam berpotensi meningkatkan penerimaan negara, sehingga pemerintah diminta mengoptimalkan penerimaan dari sektor yang diuntungkan oleh kenaikan harga.

Penerimaan tersebut diharapkan dapat menutup belanja, termasuk subsidi energi dan bunga utang. Belanja subsidi dan belanja sosial disebut tetap perlu dialokasikan sebagai instrumen perlindungan sosial saat krisis. Konsumsi BBM dan listrik juga disebut perlu dihemat melalui berbagai cara. Sementara itu, belanja barang dan modal kementerian dapat ditunda, serta diperlukan pembiayaan siaga dari pasar keuangan dan lembaga donor.

Kedua, memanfaatkan peluang relokasi industri global. Perang dagang dan deglobalisasi dinilai mendorong perusahaan memindahkan produksi ke negara yang lebih stabil. Indonesia disebut dapat menarik investasi manufaktur, baterai kendaraan listrik, dan hilirisasi mineral, terutama karena memiliki cadangan nikel terbesar di dunia yang menjadi bahan utama baterai kendaraan listrik. Indonesia juga diminta menyiapkan strategi hilirisasi untuk mineral lain dan sumber daya alam yang menarik bagi investasi.

Ketiga, mempertahankan program perlindungan sosial, termasuk makan bergizi gratis (MBG) untuk ekonomi lokal, dukungan anggaran pendidikan, serta Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) untuk ketahanan ekonomi desa. Disebut pula pentingnya penguatan program kemandirian ekonomi yang berfokus pada penguatan SDM dan investasi melalui Danantara, hilirisasi sumber daya alam untuk nilai tambah, ketahanan pangan untuk kedaulatan ekonomi, serta penguatan industri pertahanan nasional menghadapi ancaman keamanan global jangka panjang.

Gagasan “kemandirian” di tengah tatanan global yang berubah

Artikel ini juga menyinggung contoh Swiss yang disebut memperoleh manfaat ekonomi dan stabilitas selama Perang Dunia II karena status netralnya, sehingga menjadi pusat perbankan aman, tempat perlindungan pengungsi, dan penyedia layanan industri-logistik. Indonesia dinilai berpotensi menjadi negara yang aman dan netral dengan politik bebas aktif dan potensi ekonomi strategis, meski tantangannya disebut lebih berat dibanding Swiss dari sisi tingkat ekonomi, populasi, geografis, dan stabilitas domestik.

Di bagian akhir, kondisi global digambarkan berubah: lembaga multilateral dinilai melemah, aturan perdagangan global disebut tidak dipatuhi, dan muncul supremasi negara kuat yang menekan negara kecil. Perdagangan global bahkan disebut menyerupai arus merkantilisme, yakni pandangan bahwa kemakmuran dicapai melalui neraca perdagangan positif lewat intervensi negara dan proteksionisme.

Arus finansial global juga disebut bergeser ke aset aman seperti emas, bitcoin, dan kripto akibat ketidakpastian geopolitik. Emas disebut menjadi instrumen lindung nilai terhadap inflasi, sementara kripto dan bitcoin disebut menawarkan pertumbuhan agresif tanpa basis transaksi yang jelas.

Penulis menutup dengan refleksi bahwa krisis 1998, 2008, dan pandemi 2020 telah mengajarkan cara pemulihan ekonomi di tengah kesulitan. Namun, perang ekonomi 2026 dinilai lebih kompleks, sehingga Indonesia disebut harus menyesuaikan strategi kemandirian dalam situasi perang supremasi dan bertahan tanpa bantuan negara lain.