JAKARTA — Prospek pertumbuhan ekonomi China dinilai tetap kuat meski menghadapi tekanan geopolitik dan krisis energi. Sejumlah ekonom yang berbicara dalam Boao Forum for Asia 2026 menilai laju ekonomi China masih berpotensi menjadi penopang penting bagi kawasan dan perekonomian dunia.
Dikutip dari laporan China Daily pada Rabu, 25 Maret, mantan kepala ekonom Bank Dunia Justin Yifu Lin menyatakan China berada di jalur untuk mencapai target pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 2026 di kisaran 4,5 hingga 5 persen. Jika target itu tercapai, kontribusi China terhadap pertumbuhan global diperkirakan mencapai sekitar 30 persen.
Lin juga menilai pertumbuhan ekonomi China berpeluang melampaui 5 persen pada tahun ini apabila pelaksanaan kebijakan berjalan lebih baik dan tidak terjadi guncangan besar dari lingkungan internasional.
Menurut Lin, daya tahan pertumbuhan China ditopang kemajuan di sektor teknologi baru, seperti kecerdasan buatan dan komputasi kuantum, ketersediaan talenta dalam jumlah besar, pasar domestik yang luas, serta perpaduan antara peran pasar dan dukungan pemerintah.
Pandangan serupa disampaikan Zheng Yongnian dari Chinese University of Hong Kong, Shenzhen. Ia menilai peran China dalam menstabilkan ekonomi global turut diperkuat oleh kepastian arah kebijakan melalui Rencana Lima Tahun ke-15 untuk periode 2026–2030.
Rencana tersebut kembali menegaskan target China menjadi negara berpendapatan menengah maju pada 2035. Dengan sasaran itu, China dinilai berada di jalur untuk menjaga pertumbuhan tahunan di kisaran 4,5 hingga 5 persen hingga 2035.
Ekonom Italia Michele Geraci, masih mengacu pada laporan yang sama, mengatakan rencana tersebut juga memberi arah yang lebih jelas bagi investor asing. Ia menilai upaya China memperkuat kemandirian di sektor energi, pangan, dan teknologi tidak berarti negara itu menutup diri. Menurut dia, China tetap berkomitmen pada perdagangan terbuka.
Laporan utama Boao Forum for Asia juga menyoroti peran China dan ASEAN sebagai penopang stabilitas kawasan. China disebut memegang peran penting dalam rantai nilai Asia, sementara ketergantungan ekonomi ASEAN terhadap China terus meningkat. China dan negara-negara ASEAN juga dinilai sebagai tujuan investasi paling menarik di Asia.
Namun, di tengah optimisme tersebut, Jiang Xiaojuan mengingatkan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan tidak bisa sepenuhnya diserahkan pada mekanisme pasar. Ia menilai penggunaan AI yang hanya menggantikan tenaga kerja tanpa meningkatkan mutu pembangunan dan keberlanjutan perlu disikapi hati-hati karena berisiko menambah tekanan pada lapangan kerja.