Jakarta — Edukator keuangan Aliyah Nastasya menilai suami dari generasi Z (gen Z) cenderung lebih ahli dan lebih aktif dalam merencanakan keuangan keluarga. Penilaian itu ia sampaikan berdasarkan pengalamannya mendampingi klien-klien gen Z yang datang untuk menyusun perencanaan finansial sebagai pasangan.
“Dari para klienku yang gen Z, itu yang merencanakan keuangan justru suami-suaminya. Jadi mereka datang sebagai pasangan, mau melakukan perencanaan, saat aku tanya siapa inisiatornya, oh suaminya,” kata Aliyah dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.
Aliyah menjelaskan, dalam kasus yang ia temui, para suami mengaku ingin melakukan hal yang benar bagi keluarganya. Menurutnya, hal ini dipengaruhi pengalaman menghadapi beban finansial atau belajar dari kesalahan orang tua dalam mengelola keuangan pada masa lalu.
Sementara itu, dari sisi istri, Aliyah menyebut para ibu dinilai sudah terbiasa menyiasati pengeluaran dengan mencari harga atau promo terbaik melalui berbagai platform belanja, termasuk memanfaatkan momentum tanggal-tanggal tertentu seperti promo 2.2 dan sejenisnya.
Aliyah juga menyoroti meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya perencanaan keuangan. Pergeseran pola pikir dalam aspek finansial ini, menurutnya, turut dipengaruhi oleh semakin banyaknya perangkat finansial digital serta produk keuangan yang menawarkan fleksibilitas pembayaran.
Terkait perencanaan mudik, Aliyah menilai masyarakat kini lebih gemar menghitung dana yang dimiliki terlebih dahulu sebelum mencari tiket transportasi dan akomodasi. Ia mengatakan, masyarakat juga cenderung melakukan reservasi sejak jauh hari dan aktif mencari promo terbaik.
Menurut Aliyah, alokasi Tunjangan Hari Raya (THR) pun kini lebih direncanakan secara matang agar setelah Lebaran masyarakat masih memiliki cadangan tabungan.
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan situasi lima hingga 10 tahun lalu, ketika masyarakat dinilai lebih memprioritaskan pulang kampung terlebih dahulu sebelum mengatur alokasi dana sesuai kebutuhan. Pada periode itu, pembelian tiket transportasi sering dilakukan mendekati Lebaran meski harga lebih tinggi, sementara THR cenderung habis dibelanjakan. Akibatnya, setelah Lebaran banyak pihak mencari pinjaman untuk bertahan karena tidak memiliki tabungan.

