BERITA TERKINI
DPR Nilai Pelemahan IHSG Dipicu Sentimen, Fundamental Ekonomi RI Disebut Tetap Kuat

DPR Nilai Pelemahan IHSG Dipicu Sentimen, Fundamental Ekonomi RI Disebut Tetap Kuat

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan pada perdagangan Rabu (4/3/2026) setelah terkoreksi tajam hingga 5% ke level 7.500. Namun pada perdagangan Kamis (5/3/2026), IHSG dibuka menguat pada sesi awal, melesat 185 poin atau naik 2,45% ke level 7.762,33.

Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun menilai tekanan yang terjadi lebih banyak dipicu faktor sentimen sehingga bersifat jangka pendek. Salah satu contoh yang ia sebut adalah sentimen terkait lembaga pemeringkat internasional yang memangkas outlook utang atau kredit Indonesia.

“Bursa saham, pasar modal, SBN, diberikan tekanan oleh sentimen,” kata Misbakhun dalam forum CNBC Indonesia Market Outlook 2026 di Main Hall Bursa Efek Indonesia, dikutip Kamis (5/3/2026).

Menurut Misbakhun, di era globalisasi yang semakin terintegrasi, sektor keuangan menjadi sangat sensitif terhadap sentimen. Ia menyebut isu sekecil apa pun dapat memengaruhi persepsi dan keputusan investasi.

Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga kredibilitas dan integritas Bursa Efek Indonesia agar IHSG lebih tangguh. Misbakhun juga menilai komunikasi pemerintah perlu semakin baik untuk menunjukkan kekuatan fundamental ekonomi Indonesia.

Ia memaparkan sejumlah indikator yang menurutnya mencerminkan kondisi fundamental yang solid, seperti pertumbuhan ekonomi yang stabil dalam kurun panjang di atas 5%, cadangan devisa yang kuat, credit balance yang positif, current account positif, serta defisit APBN yang terkendali.

Di sisi lain, Misbakhun menyatakan tata kelola sektor keuangan Indonesia sudah berjalan baik, ditandai dengan pemisahan kewenangan antara sektor fiskal di Kementerian Keuangan, moneter di Bank Indonesia, serta pengawasan jasa keuangan oleh Otoritas Jasa Keuangan. Meski demikian, ia menilai tata kelola tersebut tetap harus diuji saat menghadapi anomali pasar.

“Jadi fundamental yang begitu kuat dalam struktur ekonomi makro ini masih dipengaruhi sentimen,” tegasnya.

Ia menambahkan, ketika tiga unsur yang ia sebut sebagai wajah ekonomi Indonesia—bursa saham, rupiah, dan SBN—mengalami tekanan bersamaan, hal itu menjadi pertaruhan reputasi negara. Karena itu, ia kembali menekankan perlunya komunikasi yang kuat untuk menjaga kepercayaan pasar.