BERITA TERKINI
DBS: Investor Perlu Perkuat Ketahanan Portofolio Hadapi Gejolak Global Kuartal II 2026

DBS: Investor Perlu Perkuat Ketahanan Portofolio Hadapi Gejolak Global Kuartal II 2026

Jakarta — Ketidakpastian geopolitik dan dinamika ekonomi global diperkirakan masih membayangi pasar keuangan pada kuartal II 2026. Dalam laporan terbaru, DBS Bank menilai investor perlu memperkuat strategi ketahanan portofolio di tengah konflik Timur Tengah, perubahan kebijakan moneter, serta pergeseran arus investasi global.

Melalui laporan Chief Investment Office Insights 2Q26, DBS menyebut sejarah menunjukkan saham Amerika Serikat kerap mencatat kinerja positif setelah konflik besar. Namun, bank tersebut menilai kondisi geopolitik saat ini membuat investor tidak bisa bersikap terlalu optimistis.

DBS menyarankan penguatan manajemen risiko, antara lain dengan meningkatkan eksposur pada emas serta mempertimbangkan strategi ekuitas berisiko lebih rendah, seperti pendekatan volatilitas rendah melalui indeks S&P 500 Low Volatility Index.

Konflik Timur Tengah dan risiko inflasi

DBS menilai konflik di Timur Tengah berpotensi memengaruhi pasar global melalui kenaikan harga energi. Bank tersebut mengaitkan risiko ini dengan posisi Iran sebagai produsen minyak terbesar keempat di OPEC.

Selain itu, ketegangan di jalur strategis energi global seperti Selat Hormuz dinilai dapat memperbesar volatilitas pasar. Lonjakan harga energi juga berisiko meningkatkan tekanan inflasi global, yang pada gilirannya dapat mempersempit ruang bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter serta menekan prospek pertumbuhan ekonomi.

Peluang perubahan narasi kebijakan The Fed

Dari sisi kebijakan moneter, DBS melihat kemungkinan perubahan narasi di Federal Reserve. Hal ini sejalan dengan pandangan ekonom dan mantan pejabat bank sentral, Kevin Warsh, yang menilai peningkatan produktivitas akibat teknologi kecerdasan buatan memungkinkan pemangkasan suku bunga tanpa memicu lonjakan inflasi.

Namun, Warsh juga mendorong pengurangan neraca bank sentral secara signifikan. Menurut DBS, pandangan tersebut membuka kemungkinan pengetatan kuantitatif baru serta kurva imbal hasil yang lebih curam, yang dinilai dapat memberi dukungan bagi sektor keuangan.

Investor mulai diversifikasi dari aset AS

Laporan DBS juga mencatat adanya pergeseran aliran dana global dari aset Amerika Serikat ke kawasan lain. Ketegangan geopolitik sempat memicu aksi ambil untung di sejumlah pasar seperti Jepang dan Korea Selatan, tetapi kondisi ini diperkirakan bersifat sementara.

DBS memperkirakan, seiring meredanya volatilitas, investor akan kembali fokus pada fundamental. Dalam konteks ini, sektor teknologi dan logam mulia disebut berpotensi mendapat perhatian, didorong tema besar seperti pelemahan dolar AS dan dominasi teknologi AI.

DBS merekomendasikan penambahan eksposur pada saham pasar berkembang serta saham Jepang. Saham pasar berkembang dinilai berpotensi diuntungkan oleh pelemahan dolar AS, pemangkasan suku bunga oleh The Fed, serta pertumbuhan laba yang kuat. Sementara itu, saham Jepang diperkirakan tetap menarik karena dukungan stimulus fiskal, reformasi tata kelola perusahaan, serta selisih imbal hasil yang kompetitif.

DBS tetap netral, risiko resesi dinilai kecil

Secara keseluruhan, DBS mengambil sikap netral terhadap berbagai kelas aset. Meski ekonomi Amerika Serikat mulai menunjukkan tanda moderasi, DBS menilai fundamental ekonomi global masih cukup kuat.

Federal Reserve Bank of Atlanta melalui indikator GDPNow merevisi perkiraan pertumbuhan dari sekitar 5% menjadi 3%. Meski demikian, DBS menilai risiko resesi pada 2026 masih relatif kecil selama konflik geopolitik tidak memicu dampak ekonomi yang lebih luas.

DBS menyebut pertumbuhan ekonomi global masih ditopang oleh siklus investasi besar di sektor kecerdasan buatan serta stimulus fiskal dari pemerintahan Donald Trump. Bank tersebut memperkirakan pendapatan korporasi global dapat tumbuh sekitar 17% sepanjang 2026.

Obligasi dinilai lebih menarik, emas tetap favorit

Dari sisi valuasi, DBS menilai obligasi saat ini lebih menarik dibandingkan saham. Rekomendasi tetap diberikan pada kredit berkualitas tinggi dengan peringkat investasi, khususnya pada kisaran A hingga BBB.

DBS juga mengingatkan bahwa disrupsi teknologi berbasis AI berpotensi mengubah lanskap bisnis di sejumlah sektor, sehingga investor perlu lebih selektif dalam memilih emiten.

Di tengah ketidakpastian global, emas dinilai tetap menjadi aset lindung nilai utama. DBS bahkan menaikkan target harga emas hingga USD6.250 per ons pada paruh kedua 2026. Permintaan emas disebut tetap kuat, didorong ketidakpastian geopolitik, kekhawatiran pelemahan dolar, serta pembelian dari bank sentral.

Selain emas, strategi investasi alternatif seperti hedge fund dinilai semakin relevan karena dapat memanfaatkan volatilitas pasar melalui strategi makro maupun posisi long-short di pasar saham.

DBS menyimpulkan, situasi saat ini menuntut investor lebih disiplin dalam membangun portofolio yang tahan terhadap gejolak pasar global.