Bursa saham Dubai dan Abu Dhabi jatuh tajam pada Rabu (3/3/2026) setelah perdagangan kembali dibuka usai penghentian selama dua hari menyusul serangan rudal dan drone Iran ke kawasan Teluk.
Menurut laporan Reuters, otoritas pasar modal Uni Emirat Arab menutup Abu Dhabi Securities Exchange dan Dubai Financial Market pada 2–3 Maret. Penutupan tersebut dilakukan untuk mencegah kepanikan di pasar, sebuah langkah yang tergolong jarang karena bursa umumnya hanya tutup pada hari libur resmi atau masa berkabung nasional.
Kapitalisasi pasar kedua bursa disebut mencapai sekitar 1,1 triliun dollar AS. Penghentian sementara itu membekukan transaksi aset bernilai miliaran dollar AS.
Investor menanti kepastian mengenai skala kerusakan akibat serangan yang disebut menghantam bandara, pelabuhan, dan kawasan permukiman di kedua emirat. Setelah perdagangan dibuka kembali, tekanan jual langsung muncul di pasar.
Indeks utama Dubai, DFMGI, turun 4,7 persen, menjadi penurunan terdalam sejak Mei 2022. Sejumlah saham berkapitalisasi besar ikut melemah, termasuk Emaar Properties yang turun 4,9 persen, Air Arabia turun 5 persen, serta Emirates NBD turun 5 persen.
Di Abu Dhabi, indeks FTFADGI merosot 3,6 persen, juga menjadi penurunan terdalam sejak Mei 2022. Saham First Abu Dhabi Bank tercatat melemah 5 persen.
Tekanan juga terlihat pada sektor energi. Saham Dana Gas dan TAQA masing-masing turun 5 persen, sementara Aldar Properties terkoreksi 5 persen. Perusahaan energi ADNOC disebut turut berada di bawah tekanan, seiring aksi jual yang terjadi secara bersamaan di sektor tersebut.
Untuk meredam gejolak, kedua bursa menetapkan batas bawah harga sementara minus 5 persen untuk seluruh sekuritas. Selain itu, Abu Dhabi Securities Exchange meminta perusahaan tercatat mengevaluasi dampak finansial dan operasional dari situasi geopolitik, serta mengungkapkan informasi material yang dapat memengaruhi keputusan investor.

