Bursa saham dan mata uang di Asia melemah pada perdagangan Senin (23/3/2026) seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang menahan harga minyak di atas US$ 110 per barel dan menekan sentimen risiko investor.
Indeks MSCI Emerging Asia tercatat turun 3% pada hari itu. Sepanjang Maret, indeks tersebut telah merosot lebih dari 11% dan berpotensi menjadi bulan terburuk sejak September 2022. Pada saat yang sama, indikator mata uang pasar negara berkembang global menyentuh level terendah dalam lebih dari tiga bulan.
Dampak konflik Iran-Amerika disebut tidak hanya terasa pada sektor energi, tetapi juga pada sektor pupuk. Kondisi ini dinilai dapat mengganggu pasokan dan meningkatkan risiko inflasi pangan di kawasan ASEAN-6. Analis DBS menilai Thailand, Vietnam, dan Filipina menjadi negara yang paling rentan apabila konflik berlanjut.
Harga minyak bertahan tinggi di atas US$ 110 per barel. Investor menimbang ancaman Amerika Serikat dan Iran terhadap fasilitas energi, di sisi lain juga memperhitungkan potensi masuknya jutaan barel minyak Iran ke pasar global setelah sanksi sementara dicabut.
Tekanan pada aset berisiko di Asia berkembang telah berlangsung sejak perang dimulai pada akhir Februari. Sejumlah negara di kawasan ini merupakan importir energi bersih sehingga lebih rentan terhadap gangguan rantai pasok serta inflasi impor.
Di Asia Timur, indeks KOSPI Korea Selatan sempat jatuh hingga 6,4%. Saham Samsung Electronics turun 4,81% dan SK Hynix melemah 6,06%. Nilai tukar won juga melemah ke 1.512,30 per dolar AS, yang merupakan level terendah sejak Maret 2009.
Di Taipei, saham sempat anjlok hingga 3,2% dan dolar Taiwan turun ke 32,125 per dolar AS, terendah sejak April 2025. Bursa Singapura dan Filipina turut melemah sekitar 2%–3%.
Jason Lui, kepala strategi APAC dan derivatif BNP Paribas, mengatakan investor asing terlihat secara sistematis merealisasikan keuntungan di Korea Selatan dan Taiwan sebelum konflik dimulai, dan berpotensi melanjutkan pelepasan posisi jika ketegangan di Timur Tengah meningkat.
Menurut analis Goldman Sachs, sejak awal konflik Iran, saham pasar berkembang di luar China telah mengalami penjualan asing kumulatif senilai US$ 44 miliar, terutama di Taiwan dan Korea Selatan. Pekan lalu, hedge fund global juga melepas saham Asia berkembang dengan laju tercepat sejak April 2025 seiring meningkatnya aversi risiko.