Pasar saham di kawasan Asia-Pasifik mengalami penurunan tajam, dengan pelemahan lebih dari 5% di tengah meningkatnya ketegangan akibat konflik di Timur Tengah. Tekanan jual meluas di berbagai bursa, termasuk Jepang dan Korea Selatan yang dilaporkan turun hingga sekitar 6%.
Penurunan ini dipicu kekhawatiran investor terhadap dampak konflik terhadap stabilitas pasokan energi global. Ancaman Iran terhadap infrastruktur energi menjadi sorotan utama pasar karena berpotensi mengganggu distribusi dan produksi, yang pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Ketidakpastian terkait arah konflik dan risiko terhadap sektor energi membuat pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko. Kondisi tersebut menambah volatilitas di bursa Asia, seiring investor mencermati perkembangan terbaru dan potensi dampaknya terhadap ekonomi serta inflasi global.