Bursa saham Asia kompak dibuka melemah pada perdagangan pagi Senin (23/3/2026), di tengah meningkatnya kecemasan investor terhadap tensi perang di Timur Tengah yang kian memanas. Sementara itu, pasar saham Indonesia belum aktif karena IHSG masih libur pasca Lebaran.
Berdasarkan data TradingView per pukul 08.05 WIB, indeks Straits Times Index (STI) Singapura turun 1,9% ke 4.854,77. Tekanan lebih dalam terlihat di Jepang, dengan Nikkei merosot 4,83% ke 50.762,18. Adapun Kospi Korea Selatan menjadi yang paling tertekan setelah terkoreksi 6,29% ke 5.417,61.
Di Seoul, aksi jual disebut terjadi merata pada saham-saham berkapitalisasi besar. Samsung Electronics turun 5%, sementara SK hynix melemah 5,56%. Dari sektor otomotif, Hyundai Motor turun 4,09%. Saham emiten pertahanan Hanwha Aerospace terkoreksi 3,86%, sedangkan KB Financial turun 4,06%.
Pelemahan juga terjadi di Hong Kong. Per pukul 08.26 WIB, indeks Hang Seng (HSI) turun 1,93% ke level 24.789,14.
Sentimen negatif di pasar Asia menguat seiring meningkatnya tensi geopolitik setelah Amerika Serikat dan Iran saling melontarkan ancaman baru, sementara konflik Israel-Iran belum menunjukkan tanda mereda. Situasi ini kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global, terutama karena Selat Hormuz dinilai masih menjadi titik risiko utama bagi jalur pengiriman minyak dunia.
Tekanan juga datang dari lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang mencapai level tertinggi dalam delapan bulan. Kenaikan yield tersebut mencerminkan perubahan ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga global, di mana harapan pemangkasan suku bunga mulai memudar akibat tekanan inflasi yang dipicu kenaikan harga energi.
Bagi pasar Asia, kondisi ini menjadi beban ganda. Di satu sisi, meningkatnya risiko perang mendorong investor lebih berhati-hati dan mengurangi minat pada aset berisiko seperti saham. Di sisi lain, kenaikan harga energi berpotensi menekan prospek laba emiten serta memperburuk outlook ekonomi negara-negara Asia yang banyak bergantung pada impor energi.
Kenaikan biaya energi dan transportasi turut memunculkan kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat dan permintaan konsumsi ke depan. Kombinasi prospek suku bunga yang tetap tinggi, yield obligasi yang naik, serta risiko perang yang belum mereda mendorong pelaku pasar mengurangi eksposur pada aset berisiko sejak awal perdagangan.