Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat transaksi belanja online pada peritel dan marketplace tumbuh 6,19% secara kuartalan (quarter to quarter/qtq) pada kuartal III. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional yang tercatat 1,43% qtq pada periode yang sama.
Bank Indonesia (BI) juga melaporkan kenaikan aktivitas belanja online. BI mencatat nilai transaksi belanja online melalui e-commerce mencapai Rp 134,67 miliar pada kuartal III, tumbuh 4,93% qtq dan 3,74% secara tahunan (year on year/yoy). Dari sisi volume, transaksi mencapai 1,44 miliar, meningkat 7,72% qtq dan 20,5% yoy.
Menurut BI, peningkatan transaksi tersebut didorong rangkaian kampanye diskon besar, seperti 7.7, 8.8, dan 9.9. Sejumlah platform e-commerce juga bersiap menggelar kampanye 11.11.
Dari sisi tren belanja selama periode kampanye 10.10 pada September, Senior Director of Tokopedia & TikTok E-commerce Indonesia Stephanie Susilo menyampaikan beberapa kategori produk yang paling laris, yakni handphone dan tablet, otomotif, makanan dan minuman, kecantikan dan perawatan diri, serta fashion muslim.
Stephanie juga menyebut lonjakan transaksi terjadi merata di berbagai wilayah Indonesia, dengan pertumbuhan tertinggi tercatat di sejumlah daerah. Untuk Tokopedia, wilayah dengan pertumbuhan transaksi tertinggi adalah Papua Barat, Gorontalo, dan Kalimantan Selatan. Sementara di TikTok Shop, pertumbuhan tertinggi terjadi di Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Jambi. “Lonjakan transaksi ini terjadi merata (di seluruh Indonesia). Paling besar di Papua Barat, Gorontalo, Kalimantan Selatan, Maluku,” kata Stephanie dalam konferensi pers “Promo Guncang 11.11” di Jakarta, Rabu (5/11).
Dari catatan BPS, Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh. Edy Mahmud menjelaskan transaksi online ditopang pembelian barang perawatan diri seperti kosmetik dan skincare, serta peralatan rumah tangga, transportasi, rekreasi olahraga, dan pakaian.
Pelaksana harian Direktur Neraca Pengeluaran BPS Anisa Nuraini menyampaikan total transaksi digital mencapai Rp 200 triliun pada kuartal III. Berdasarkan kategori produk, kontribusinya antara lain personal care sebesar 17%–18%, perlengkapan rumah tangga 14%, transportasi 13%, rekreasi 13%, serta pakaian dan sepatu 11%–12%.
Edy menilai kinerja perekonomian pada triwulan III 2025 ditopang konsumsi masyarakat yang masih terjaga. Ia menambahkan konsumsi rumah tangga sangat dipengaruhi pendapatan dan optimisme masyarakat. Menurutnya, pendapatan yang dapat dibelanjakan (disposable income) menjadi faktor kunci karena ketika meningkat, rumah tangga cenderung menambah konsumsi.
Selain itu, Edy menyebut program pemerintah yang merangsang konsumsi, seperti bantuan sosial dan insentif lain, turut berperan menjaga daya beli masyarakat. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti juga menyampaikan perlambatan pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal III bukan disebabkan melemahnya daya beli.

