Bank Indonesia (BI) memprakirakan pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi pada 2026 akan berada di kisaran 4,20 hingga 5,0 persen. Proyeksi tersebut mencerminkan ketahanan permintaan domestik serta berlanjutnya aktivitas sektor berbasis komoditas.
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Jambi, Tedy Arief Budiman, menilai percepatan hilirisasi menjadi langkah penting, terutama pada sektor sawit dan energi. Menurutnya, penguatan hilirisasi diperlukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah.
Ia menambahkan, program peremajaan sawit rakyat (PSR) berperan penting dalam menjaga produktivitas sekaligus stabilitas pasokan bahan baku bagi industri pengolahan. Pernyataan tersebut disampaikan pada Sabtu, 21 Februari 2026.
Selain hilirisasi, BI merekomendasikan penguatan sinergi pemerintah daerah dengan investor swasta dan badan usaha milik negara (BUMN). BI juga mendorong percepatan penyelesaian rencana tata ruang wilayah (RTRW) dan perizinan, penguatan konektivitas logistik, serta optimalisasi pariwisata sebagai sumber pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Dari sisi harga, inflasi Jambi hingga akhir 2026 diprakirakan tetap berada dalam sasaran 2,5 persen dengan toleransi plus minus 1 persen. Perkiraan tersebut didukung oleh upaya pengendalian inflasi pangan, kerja sama antar daerah, serta penguatan digitalisasi rantai distribusi.

