Banyak orang tumbuh dengan nasihat keuangan yang menekankan penghematan, seperti anjuran agar pengeluaran tidak melebihi pemasukan. Namun, setelah mempelajari ekonomi makro, penulis Faris Firdaus Alkautsar menyimpulkan bahwa membelanjakan uang (spending) memiliki peran yang sama pentingnya dengan menabung (saving) dalam konteks perekonomian yang lebih luas.
Dalam perspektif ekonomi makro, uang yang hanya disimpan dan tidak berputar dinilai tidak produktif. Ketika seseorang membelanjakan uang, dana tersebut tidak sekadar “hilang” dari saldo pribadi, melainkan berpindah ke pihak lain dan berpotensi terus bergerak dalam rantai aktivitas ekonomi.
Penulis menggambarkan contoh sederhana melalui transaksi membeli semangkuk bakso. Uang yang dibayarkan kepada penjual bakso, menurutnya, tidak berhenti sebagai keuntungan satu pihak, tetapi dapat mengalir ke pemasok daging, penjual bumbu, petani sayur, hingga pelaku usaha lain yang terkait. Dari sana, uang tersebut kembali dibelanjakan untuk kebutuhan lain, modal usaha, maupun konsumsi pribadi. Perputaran inilah yang disebut ikut menjaga aktivitas ekonomi tetap berjalan.
Ia juga menilai kondisi sebaliknya dapat terjadi bila banyak orang menahan belanja secara ekstrem. Jika penghematan dilakukan secara massal—misalnya karena kenaikan harga, beban pajak, atau ketidakpastian masa depan—uang dapat tertahan, perputaran melambat, dan aktivitas ekonomi ikut terdampak. Efek berantai tersebut, pada akhirnya, dapat kembali dirasakan oleh masyarakat.
Karena itu, penulis menekankan bahwa sikap irit tidak selalu otomatis dianggap bijak bila dilakukan berlebihan. Menurutnya, penghematan ekstrem berpotensi menjadi kontraproduktif karena uang yang semestinya kembali masuk ke siklus perekonomian justru mengendap.
Meski demikian, penulis menegaskan bahwa pentingnya belanja bukan berarti membenarkan perilaku foya-foya. Ia membedakan antara spending yang terencana dan spending tanpa kendali. Dalam konteks ini, ia menilai pengelolaan anggaran (budgeting) menjadi kunci agar kebutuhan primer tetap terpenuhi, tabungan serta dana darurat tetap tersedia, dan ruang untuk hiburan tetap ada secara proporsional.
Penulis menyebut skema penganggaran seperti 50-30-20 dapat digunakan, meski penerapannya bergantung pada preferensi masing-masing. Intinya, uang dikelola secara sadar—bukan sekadar ditahan tanpa tujuan, dan bukan pula dihabiskan tanpa kontrol.
Selain belanja, penulis juga menyoroti bahwa menabung memerlukan strategi. Ia menyebut sebagian dana dapat disimpan di rekening yang mudah dicairkan, sementara sebagian lain ditempatkan pada instrumen yang berpotensi berkembang seperti reksa dana, saham, atau emas. Tujuannya agar dana tetap siap digunakan dan nilainya terjaga.
Ia juga menyinggung bahwa menyimpan uang di bank, termasuk bank pemerintah, dapat mendukung perekonomian karena dana yang tersimpan berpotensi diputar kembali oleh bank melalui berbagai produk keuangan. Di sisi lain, ia mengingatkan pentingnya menyimpan uang secara aman dan menghindari tempat berisiko kehilangan.
Pada akhirnya, penulis menyimpulkan bahwa belajar ekonomi makro membuatnya melihat pengelolaan uang bukan sebagai kompetisi untuk menjadi paling hemat. Menurutnya, kebijaksanaan finansial terletak pada kemampuan menentukan kapan perlu menahan dan kapan perlu membelanjakan, karena uang yang berputar tidak hanya menopang kebutuhan pribadi, tetapi juga menggerakkan kehidupan ekonomi orang lain.

