BERITA TERKINI
Bayi Orangutan Betina Ditemukan Sendirian di Kebun Sawit Ketapang, Dievakuasi ke Pusat Rehabilitasi

Bayi Orangutan Betina Ditemukan Sendirian di Kebun Sawit Ketapang, Dievakuasi ke Pusat Rehabilitasi

Seekor bayi orangutan betina ditemukan sendirian di kebun sawit milik warga di Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Satwa tersebut dilaporkan berada di lokasi tanpa didampingi induknya.

Menindaklanjuti laporan warga, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar Seksi Konservasi Wilayah Ketapang bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melakukan penyelamatan. Warga setempat mengaku telah melihat bayi orangutan itu selama beberapa hari berada sendiri di area perkebunan, sementara keberadaan induk tidak terlihat di sekitar lokasi.

Tim gabungan kemudian melakukan verifikasi lapangan dan memastikan bayi orangutan tersebut benar-benar sendirian di tengah kebun sawit yang minim sumber pakan. Kondisinya terpantau pasif, tidak banyak bergerak, dan tampak kebingungan seolah menunggu induknya. Upaya pencarian induk sempat dilakukan di sekitar lokasi, namun tidak membuahkan hasil.

Untuk menghindari potensi konflik dengan warga serta menjamin keselamatan satwa, tim memutuskan berjaga dan bermalam di lokasi sembari menunggu kedatangan tim penyelamat. Setelah observasi, proses evakuasi diputuskan dilakukan tanpa menggunakan senjata atau sumpit bius.

Dokter hewan YIARI, drh. Komara, menjelaskan keputusan itu diambil karena usia orangutan yang masih sangat muda sehingga penggunaan anestesi dinilai berisiko. “Secara fisik, Jani masih sangat muda. Dalam kondisi seperti ini, penggunaan obat bius justru dapat meningkatkan risiko. Penanganan manual menjadi pilihan paling aman dengan tetap memperhatikan tingkat stres dan kondisi fisiologis satwa,” ujarnya, Sabtu (24/1/2026).

Evakuasi berlangsung lancar. Bayi orangutan yang kemudian diberi nama Jani itu dimasukkan ke dalam kandang transport dan dibawa ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Hasil pemeriksaan awal menunjukkan Jani diperkirakan berusia sekitar lima tahun. Pada usia tersebut, anak orangutan seharusnya masih hidup dan bergantung penuh pada induknya. Drh. Komara menjelaskan, di alam liar anak orangutan sangat bergantung pada induknya hingga usia 6–8 tahun untuk perlindungan, asupan nutrisi, dan pembelajaran perilaku bertahan hidup. Terpisah dari induk pada usia ini dinilai berisiko dan dapat mengancam keselamatannya.

Saat ini, Jani ditempatkan di ruang karantina YIARI dan akan menjalani serangkaian pemeriksaan medis lanjutan dalam beberapa hari ke depan sembari menunggu kondisi stresnya stabil.

Ketua YIARI, Silverius Oscar Unggul, menilai kasus ini mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap satwa liar dan habitatnya akibat lanskap yang semakin terfragmentasi. YIARI bersama BKSDA Kalbar juga akan melakukan pemantauan lanjutan di sekitar perkebunan sawit untuk mencari keberadaan induk Jani. “Jika induknya berhasil ditemukan, akan diupayakan proses pengembalian bayi orangutan ini kepada induknya sekaligus memindahkannya ke habitat yang lebih aman,” katanya.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, mengapresiasi sinergi berbagai pihak dalam penyelamatan bayi orangutan tersebut. Ia menegaskan, di usia lima tahun Jani seharusnya masih bersama induknya, namun setelah beberapa hari pemantauan hingga proses penyelamatan, satwa itu terlihat sendirian. Kondisi tersebut disebut sebagai dampak dari tingginya tekanan terhadap habitat orangutan.