BERITA TERKINI
Ancaman Gangguan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Lonjakan Harga Energi dan Tekanan Ekonomi Global

Ancaman Gangguan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Lonjakan Harga Energi dan Tekanan Ekonomi Global

Selat Hormuz menjadi salah satu jalur pelayaran paling vital bagi perdagangan energi dunia. Selat sempit yang berada di antara Iran dan Oman ini merupakan pintu keluar utama minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia menuju pasar internasional. Ketika ketegangan geopolitik meningkat dan muncul ancaman penutupan, pasar energi global umumnya bereaksi cepat.

Para analis memperingatkan, gangguan di Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan mengguncang stabilitas ekonomi internasional. Data Badan Energi Internasional (IEA) menunjukkan sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz, setara kira-kira 20% dari konsumsi minyak dunia. Selain minyak mentah, jalur ini juga dilalui volume besar gas alam cair (LNG), termasuk ekspor LNG Qatar yang sangat bergantung pada akses pelayaran melalui selat tersebut.

Dalam perkembangan terbaru, arus minyak melalui Selat Hormuz dilaporkan anjlok hingga 86% dibandingkan rata-rata harian tahun 2026. Pada Minggu, 1 Maret 2026, hanya tiga kapal tanker tercatat melintasi jalur itu, jauh di bawah rata-rata normal, sementara lebih dari 700 kapal lainnya mengantre di kedua sisi selat. Penurunan drastis ini terjadi setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang memicu lonjakan risiko keamanan serta biaya asuransi pelayaran.

Ketergantungan besar negara produsen dan pasar Asia

Negara-negara produsen minyak di Timur Tengah sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk mengirimkan energi ke pasar global. Minyak dari Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab sebagian besar dikapalkan melalui selat ini. IEA mencatat sekitar 84% minyak yang melewati Selat Hormuz dikirim ke pasar Asia, dengan tujuan utama antara lain Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan.

Ketergantungan yang tinggi membuat negara-negara Asia sensitif terhadap gangguan di jalur tersebut. Bahkan rumor potensi konflik di kawasan Teluk dapat memicu kenaikan harga minyak dunia.

Skenario jika Selat Hormuz terganggu atau ditutup

Jika Selat Hormuz mengalami gangguan serius atau ditutup, dampak awalnya adalah tersendatnya pasokan energi global. Kapal tanker dari negara-negara Teluk tidak dapat keluar menuju pasar internasional, sehingga jutaan barel minyak per hari berisiko tertahan di kawasan Teluk Persia. Situasi ini dinilai hampir pasti mendorong kenaikan harga minyak, yang kemudian merembet ke sektor lain melalui kenaikan harga bahan bakar, biaya transportasi, hingga biaya produksi industri.

Jika penutupan berlangsung lama, para analis memperkirakan harga minyak dapat melonjak tajam dan berpotensi menembus 100 dolar AS per barel (sekitar Rp1,7 juta). Selain energi, jalur ini juga penting bagi perdagangan pupuk global. Kawasan Teluk menyumbang sekitar 20% perdagangan global pupuk utama seperti amonia, fosfat, dan sulfur, serta hampir setengah perdagangan urea dunia.

UNCTAD memperkirakan sekitar 1,33 juta ton pupuk melewati Selat Hormuz setiap bulan. Penutupan selama 30 hari saja dapat memicu kekurangan pupuk. Tanaman seperti jagung, gandum, dan padi yang membutuhkan nitrogen tinggi berisiko mengalami penurunan hasil panen. Peneliti IFPRI Joseph Glauber menyatakan harga pupuk yang tinggi dapat mengubah pilihan tanaman petani, termasuk kemungkinan beralih ke tanaman yang membutuhkan pupuk lebih sedikit atau mengurangi penggunaan pupuk, terutama di negara-negara miskin.

Gangguan di Selat Hormuz juga dapat mendorong kenaikan harga energi global yang menyumbang hampir setengah dari biaya produksi pangan. Dampaknya mencakup peningkatan biaya mesin pertanian, transportasi hasil panen, hingga pengolahan makanan, yang pada akhirnya menekan harga pangan. Negara yang bergantung pada impor pupuk dan energi diperkirakan paling merasakan dampaknya. Di sisi lain, negara-negara Teluk yang mengimpor hingga 90% kebutuhan pangan juga menghadapi risiko serius karena penutupan berkepanjangan dapat menguras cadangan pangan mereka dalam beberapa bulan.

Efek domino ke inflasi dan rantai pasok

Kenaikan harga energi berpotensi memicu inflasi di berbagai negara. Ketika biaya transportasi dan produksi meningkat, harga barang konsumsi cenderung ikut naik. Dana Moneter Internasional (IMF) menilai lonjakan harga energi kerap berdampak luas terhadap pertumbuhan ekonomi global karena energi merupakan komponen penting di hampir semua sektor industri.

Risiko lain adalah gangguan terhadap rantai pasok global. Konflik di kawasan dapat meningkatkan risiko keamanan pelayaran dan mendorong kenaikan biaya asuransi kapal tanker. Perusahaan logistik dapat terpaksa menyesuaikan rute atau menanggung biaya operasional lebih tinggi, yang berpotensi memperlambat arus perdagangan internasional dan meningkatkan ketidakpastian di pasar komoditas.

Bank Dunia juga menyoroti potensi tekanan pada neraca perdagangan negara berkembang yang sangat bergantung pada impor energi, terutama ketika harga minyak melonjak dan biaya impor menjadi jauh lebih mahal.

Negara-negara yang dinilai paling rentan

Analis menilai sejumlah negara Asia paling rentan terhadap lonjakan harga energi karena lebih dari 80% ekspor minyak Teluk Persia yang melewati Selat Hormuz dikirim ke pasar Asia. Jika jalur ini terganggu, negara-negara Asia berpotensi menghadapi inflasi, kenaikan biaya produksi, dan tekanan pada pertumbuhan ekonomi, terutama di sektor transportasi dan manufaktur.

Negara seperti Thailand, India, Korea Selatan, dan Filipina diperkirakan merasakan dampak signifikan karena ketergantungan besar pada impor minyak. Sebaliknya, Malaysia dinilai berpotensi memperoleh keuntungan relatif karena merupakan pengekspor energi.

Di Asia Selatan, dampak gangguan pasokan diperkirakan paling terasa pada LNG. Pakistan dan Bangladesh sangat bergantung pada impor LNG dari Qatar dan Uni Emirat Arab, sementara kapasitas penyimpanan energi keduanya terbatas. Bangladesh juga disebut telah menghadapi kekurangan pasokan gas domestik yang besar.

India menghadapi risiko ganda dari lonjakan harga minyak dan LNG karena lebih dari separuh impor energinya terkait kawasan Teluk, dengan sekitar 60% impor minyak berasal dari Timur Tengah. Tiongkok juga memiliki ketergantungan besar pada jalur Hormuz, meski dinilai memiliki penyangga berupa cadangan energi yang cukup besar. Namun gangguan jangka panjang tetap dapat memperketat persaingan pasokan di pasar Asia.

Jepang dan Korea Selatan sangat bergantung pada minyak dari Timur Tengah, sementara persediaan LNG keduanya disebut hanya cukup untuk beberapa minggu jika terjadi gangguan berkepanjangan. Di Asia Tenggara, dampak yang diperkirakan lebih dominan adalah kenaikan harga, yang dapat mendorong inflasi dan memperburuk neraca perdagangan sejumlah negara.

Di Eropa, dampaknya dinilai tidak sebesar Asia tetapi tetap signifikan, terutama bagi negara yang mengandalkan LNG dari Qatar. Karena sebagian besar ekspor LNG Qatar melewati Selat Hormuz, gangguan jalur ini dapat menghambat pasokan gas dan memicu ketidakstabilan di pasar energi global.

Negara-negara Teluk sendiri menjadi pihak yang paling terdampak secara langsung jika Selat Hormuz ditutup. Arab Saudi, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Qatar sangat bergantung pada jalur ini untuk mengekspor minyak dan gas. Jika tertutup, jutaan barel minyak per hari berpotensi tidak dapat dikirim keluar kawasan, yang dapat menekan pendapatan ekspor dan berdampak pada stabilitas fiskal serta ekonomi domestik.

Langkah darurat untuk meredam gejolak

Untuk menstabilkan harga minyak global, IEA memerintahkan pelepasan cadangan minyak darurat terbesar dalam sejarahnya setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu gejolak pasar energi. Sebanyak 32 negara anggota IEA sepakat melepas sekitar 400 juta barel minyak mentah darurat, setara sekitar sepertiga dari total cadangan pemerintah negara anggota.

Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menyatakan pasar minyak bersifat global sehingga respons terhadap gangguan besar juga harus bersifat global, seraya menegaskan keamanan energi sebagai mandat utama IEA. IEA menyebut minyak darurat akan disalurkan ke pasar global ketika pasar kehilangan sekitar 15 juta barel per hari akibat terganggunya perdagangan melalui Selat Hormuz.

Pelepasan cadangan dilakukan sesuai kondisi nasional masing-masing anggota. Inggris berencana melepas sekitar 13,5 juta barel, Jepang sekitar 80 juta barel dari cadangan nasional dan swasta, Korea Selatan sekitar 22,46 juta barel, dan Jerman sekitar 19,51 juta barel. Pelepasan tersebut dijadwalkan dimulai pada 18 Maret untuk membantu menenangkan pasar minyak global.