Analis Elev8 Kar Yong Ang menilai informasi di pasar keuangan baru benar-benar menjadi kekuatan bila digunakan pada waktu yang tepat. Menurut dia, ringkasan keputusan bank sentral yang dibaca sehari setelahnya mungkin masih relevan untuk strategi jangka menengah, tetapi bagi trader harian momentum sering kali sudah terlewat.
Dalam keterangannya, Kar Yong Ang menyebut pengetahuan sebagai “mata uang” yang sesungguhnya di pasar. Ia menekankan, bagi trader, tetap terinformasi bukan sekadar pilihan strategis melainkan kebutuhan untuk bertahan. Tanpa informasi yang tepat waktu, strategi yang matang bisa gagal dan keputusan akhirnya lebih bergantung pada keberuntungan.
Kar Yong Ang memaparkan tiga alasan mengapa pemantauan berita penting bagi trader. Pertama, volatilitas mengikuti narasi. Ia menjelaskan pasar tidak merespons data secara terpisah, melainkan merespons hal yang sedang diprioritaskan investor. Karena itu, bukan hanya angka data yang memicu volatilitas, tetapi juga cara data tersebut ditafsirkan dalam konteks narasi yang dominan.
Ia memberi contoh, ketika ketegangan geopolitik mendominasi, rilis data ekonomi penting seperti Indeks Harga Konsumen (CPI) bisa saja diabaikan. Sebaliknya, ketika inflasi menjadi fokus utama, perubahan kecil pada CPI dapat memicu pergerakan tajam yang berpotensi menyentuh stop loss atau take profit secara tiba-tiba. Menurut dia, pergerakan harga mencerminkan kekhawatiran utama pelaku pasar, bukan semata angka statistik mentah.
Kar Yong Ang juga menyinggung gejolak terbaru di saham Amerika Serikat. Ia mengatakan, selama berbulan-bulan kinerja keuangan yang kuat mendorong kenaikan di S&P 500 dan Nasdaq, namun pada Februari laporan pendapatan rekor perusahaan teknologi besar tetap “dihukum” karena narasi pasar bergeser ke isu kompresi margin. Dalam situasi itu, data yang masih kuat secara historis cenderung diabaikan karena pasar fokus pada pertanyaan kapan investasi besar-besaran dalam kecerdasan buatan akan mulai berdampak pada laba bersih.
Alasan kedua, kata dia, pasar bersifat prospektif atau melangkah lebih dulu. Artinya, pasar sering kali sudah “memasukkan” perkiraan atau peristiwa yang diharapkan sebelum peristiwa itu terjadi. Karena itu, trader perlu memahami apa yang sudah tercermin dalam harga aset sebelum bereaksi terhadap rilis berita.
Ia merujuk pepatah “beli saat rumor, jual saat berita” untuk menggambarkan perilaku tersebut. Dalam banyak kasus, harga naik sebelum pengumuman karena antisipasi, lalu berbalik arah atau stagnan ketika berita resmi keluar karena ekspektasi sudah tercermin di harga. Menurut dia, pola ini terjadi lintas kelas aset, mulai dari saham, mata uang, hingga kripto.
Alasan ketiga adalah kewaspadaan terhadap “angsa abu-abu”, yakni risiko yang sudah menjadi perhatian pasar tetapi belum terwujud. Kar Yong Ang menilai pemahaman atas narasi dominan membantu trader menghindari langkah yang berlawanan dengan arus makroekonomi dan berujung melawan tren pada saat yang tidak menguntungkan.
Ia mencontohkan, ketika komunikasi bank sentral sangat dovish—mengisyaratkan pemotongan suku bunga dan/atau pelonggaran kuantitatif—pasar ekuitas kerap terus naik meski penilaian tradisional menunjukkan kondisi overbought secara teknis atau overvalued secara fundamental. Dalam kondisi itu, melakukan short selling pada indeks utama disebutnya sebagai taruhan berisiko tinggi, yang sering disebut “melawan The Fed”. Ia menyebut periode 2013–2015 sebagai contoh ketika banyak posisi short pada S&P 500 berkinerja buruk atau gagal, dengan pendorong utama pertumbuhan pasar saat itu adalah perluasan neraca Federal Reserve, bukan metrik penilaian fundamental.
Terkait cara mengikuti agenda pasar, Kar Yong Ang mengakui volume berita keuangan dapat membingungkan, terutama bagi pemula. Ia menyoroti pentingnya kurasi yang akurat serta interpretasi yang tepat waktu, mengingat sebagian investor dapat kewalahan oleh derasnya informasi.
Menurut dia, kondisi ini mendorong sebagian trader beralih ke media sosial, di mana influencer keuangan atau “finfluencer” menafsirkan data pasar dan kerap memberikan rekomendasi yang subjektif. Ia mengutip penelitian Yayasan FINRA yang menyebut 26% investor mengandalkan influencer media sosial saat mengambil keputusan investasi, dan 57% dari kelompok tersebut memiliki pengalaman kurang dari dua tahun.
Kar Yong Ang menambahkan, investor yang lebih berpengalaman cenderung tidak mengandalkan asumsi trading pihak lain karena menilai pendekatan itu meningkatkan risiko. Ia menyebut data FINRA menunjukkan riset dan alat yang disediakan perusahaan broker masih menjadi sumber informasi investasi yang paling dipercaya, melampaui media sosial, artikel keuangan, rekomendasi influencer, hingga komunitas sesama investor.
Ia mengatakan broker seperti Elev8 berupaya menjembatani kebutuhan data dan interpretasi dengan mengumpulkan informasi pasar dari sumber terpercaya secara hampir real-time, disertai komentar analis profesional. Menurutnya, pendekatan ini membantu trader memahami dampak peristiwa ekonomi atau rilis data terhadap pasar dan menyesuaikan strategi mereka.
Kar Yong Ang menutup pernyataannya dengan menyebut hasil yang diharapkan adalah trader memperoleh panduan untuk mengambil keputusan yang lebih terinformasi sekaligus meningkatkan keterampilan dan literasi keuangan agar dapat menganalisis perkembangan pasar secara mandiri di kemudian hari.

