Halal lifestyle kian bergeser dari sekadar identitas religius menjadi tren konsumsi global yang menekankan kualitas, transparansi, kesehatan, dan keberlanjutan. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi halal dunia ikut terdorong oleh meningkatnya kesadaran konsumen terhadap produk yang tidak hanya memenuhi aspek halal, tetapi juga dinilai bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memperkirakan nilai aset keuangan syariah global pada periode 2025–2026 dapat mencapai sekitar US$5,9 triliun atau setara Rp96,06 kuadriliun. Meski potensinya besar, Indonesia saat ini disebut baru menguasai sekitar 3% perdagangan industri halal global.
Padahal, dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk memainkan peran yang lebih signifikan di pasar halal internasional. Momentum Ramadan juga kerap menjadi ruang refleksi etika konsumsi, ketika banyak konsumen tidak hanya mencari produk halal, tetapi juga yang berkualitas, sehat, serta diproduksi secara bertanggung jawab.
Topik peluang Indonesia di ekosistem halal global tersebut dibahas dalam Bloomberg Technoz Podcast – Ramadan Spark 2026 yang dipandu Sisi Aspasia dan Winda Mizwar. Dalam diskusi itu, Dr. H. Sandiaga Salahuddin Uno hadir sebagai Indonesia Strategic Entrepreneur, sementara Vera Galuh Sugijanto, Vice President General Secretary AQUA Indonesia, memaparkan perspektif industri.
Pasar Muslim global diperkirakan bernilai US$3 triliun hingga US$4 triliun. Angka ini menggambarkan bahwa halal lifestyle tidak lagi dipandang sebagai segmen terbatas, melainkan telah berkembang menjadi salah satu pilar penting dalam ekonomi global.
Dalam diskusi tersebut, Sandiaga menyoroti air sebagai komoditas yang dinilai semakin strategis di masa depan. Kebutuhan terhadap sumber air berkualitas disebut meningkat seiring tumbuhnya kesadaran masyarakat dunia terhadap kesehatan dan keberlanjutan sumber daya alam.
Ia juga menekankan bahwa konsep halal kini meluas melampaui makanan dan minuman, mencakup praktik produksi yang etis, keberlanjutan lingkungan, serta konsumsi yang bertanggung jawab. Menurutnya, halal tidak dapat dilepaskan dari konsep halalan thayyiban, yakni produk yang tidak hanya halal secara syariat, tetapi juga baik, aman, sehat, dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Dalam konteks global, halal lifestyle bahkan mulai dipandang sebagai standar kualitas produk. Konsumen modern disebut menilai produk tidak hanya dari sisi agama, tetapi juga dari aspek kualitas, transparansi, dan kepercayaan terhadap produsen. Sandiaga menilai Indonesia memiliki posisi strategis untuk memanfaatkan tren tersebut, didukung sumber daya alam yang besar dan ekosistem ekonomi syariah yang terus berkembang.
Dari sisi industri, Vera menilai keberhasilan Indonesia memasuki pasar halal global tidak cukup bertumpu pada label atau sertifikasi semata. Menurutnya, ekosistem halal perlu dibangun di atas prinsip keberlanjutan yang kuat, termasuk dalam pengelolaan sumber daya air, perlindungan lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat di sekitar sumber mata air.
Vera menekankan bahwa halal lifestyle perlu dijaga secara menyeluruh dari awal proses hingga produk sampai ke konsumen. Ia menyebut halal tidak berhenti pada sertifikasi atau logo, tetapi juga tercermin dalam penelusuran rantai pasok, kualitas bahan baku, standar kebersihan produksi, hingga pengelolaan limbah dan kemasan yang bertanggung jawab.
Dalam praktiknya, konsistensi kualitas menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan konsumen. Vera mencontohkan upaya menjaga kualitas air sejak dari sumber hingga proses produksi agar mutu tetap terjaga saat sampai ke konsumen. Selain itu, ia menyebut pentingnya sistem penelusuran yang jelas, proses produksi berkelanjutan, serta standar kebersihan yang tinggi di setiap tahap.
Vera juga menyoroti dampak ekonomi dan sosial dari ekosistem halal. Melalui jaringan distribusi seperti AQUA Home Service, ribuan agen di berbagai daerah disebut dapat mengembangkan usaha dan memperoleh penghasilan tambahan, termasuk ibu rumah tangga yang memanfaatkan peluang tersebut untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Selain itu, perusahaan menjalankan program pendampingan UMKM, membantu pelaku usaha memperoleh sertifikasi halal, serta menggelar program sosial untuk memperkuat ekonomi masyarakat sekitar.
Sementara itu, Sandiaga menekankan pentingnya kolaborasi lintas pihak dalam pengembangan ekosistem halal nasional. Pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media disebut memiliki peran dalam mempercepat pertumbuhan industri. Menurutnya, kunci agar Indonesia dapat menjadi pusat ekosistem halal dunia terletak pada kemampuan menjaga kualitas produk, konsistensi standar, serta membangun kepercayaan konsumen di tingkat global.
Dengan potensi pasar yang besar dan dukungan sumber daya alam, Indonesia dinilai memiliki peluang memperluas pengaruhnya dalam ekonomi halal dunia. Namun, peluang tersebut disebut hanya dapat diwujudkan bila seluruh pemangku kepentingan bergerak bersama membangun ekosistem yang kuat, berkelanjutan, dan terpercaya.