BERITA TERKINI
AAJI Tekankan Perencanaan, Proteksi, dan Fondasi Keuangan Sejak Muda di Kick Andy Goes to Campus

AAJI Tekankan Perencanaan, Proteksi, dan Fondasi Keuangan Sejak Muda di Kick Andy Goes to Campus

Tangerang — Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mengangkat isu literasi keuangan dalam acara Kick Andy Goes to Campus yang digelar di Universitas Binus Alam Sutera, Kamis, 26 Februari 2026. Dalam sesi yang berlangsung interaktif, Kepala Departemen Edukasi dan Literasi AAJI, Cicilia Nina, menekankan pentingnya perencanaan keuangan sebagai langkah pencegahan risiko.

Menurut Nina, pesan utama yang perlu dipahami generasi muda adalah menempatkan perencanaan sebagai upaya antisipasi. Ia menyampaikan bahwa pencegahan dinilai lebih penting dibandingkan penanganan setelah risiko terjadi.

Dalam pemaparannya, Nina menjelaskan perencanaan keuangan seharusnya dilihat secara menyeluruh, mulai dari memperoleh pendapatan, menyimpan, membelanjakan, hingga mengumpulkan aset. Ia menegaskan konsep tersebut tidak hanya untuk kebutuhan saat ini, tetapi juga untuk masa depan dan warisan. Karena itu, ia menyebut perencanaan yang “komplet” mencakup tiga unsur: tabungan, investasi, dan proteksi.

Nina menilai banyak anak muda sudah memahami pentingnya menabung dan berinvestasi, namun kerap melupakan aspek proteksi. Ia menjelaskan proteksi berfungsi menjaga dana yang telah dikumpulkan, memastikan investasi tetap dapat berjalan ketika risiko terjadi, serta mendukung akumulasi kekayaan untuk tujuan jangka panjang.

Ia juga menyoroti risiko yang sering tidak disadari generasi muda, yakni kebiasaan mengelola pengeluaran tanpa perencanaan. Nina menyebut banyak orang membuat rencana terkait pendapatan, tetapi tidak merencanakan pengeluaran. Ia mencontohkan kebiasaan mencatat belanja setelah transaksi terjadi, yang menurutnya terlambat karena perencanaan seharusnya dilakukan sebelum uang dibelanjakan.

Dalam kesempatan itu, Nina memaparkan tahapan perencanaan keuangan yang runtut dan mengingatkan mahasiswa agar tidak langsung masuk ke fase investasi berisiko tinggi tanpa fondasi. Ia mengingatkan agar tidak terburu-buru berutang, termasuk melalui layanan paylater yang kerap dianggap bukan utang. Menurutnya, masalah muncul ketika kewajiban pembayaran tidak dipenuhi.

Tahap berikutnya, kata Nina, adalah membangun fondasi berupa dana darurat dan proteksi. Ia meluruskan pemahaman bahwa dana darurat bukan tabungan biasa. Dana tersebut dapat disimpan dalam bentuk simpanan, namun tidak semestinya dipisah-pisahkan untuk berbagai pos. Nina menyarankan dana darurat sebesar 1–3 kali pengeluaran bagi yang masih lajang, dan lebih besar bagi yang sudah berkeluarga.

Setelah fondasi terbentuk, barulah masuk tahap stabilisasi, seperti menabung dan memilih instrumen berisiko rendah. Tahap berikutnya adalah akselerasi melalui investasi, seperti saham, emas, atau kripto. Ia mengingatkan kecenderungan sebagian anak muda yang justru terbalik dalam urutan ini, yakni masuk ke investasi berisiko sebelum kebutuhan dasar terpenuhi.

Untuk memudahkan pemahaman, Nina memperkenalkan rumus 1–2–3–4 dalam pengelolaan keuangan: 10% untuk dana kebajikan, 20% untuk tabungan dan proteksi, 30% untuk aset, dan 40% untuk biaya hidup. Ia menekankan prinsip “sisihin bukan sisain”, karena kebiasaan belanja terlebih dahulu sering membuat tidak ada sisa yang bisa ditabung.

Nina mengatakan kebiasaan menyisihkan uang dapat dimulai sejak mahasiswa, termasuk dari uang saku. Ia mendorong mahasiswa membuat anggaran sederhana dan memiliki target tabungan selama masa kuliah.

Dalam penutupnya, Nina menegaskan pentingnya membangun kesadaran proteksi bahkan sebelum memasuki usia produktif. Menurutnya, tanpa perencanaan yang bijak, berapa pun aset yang dimiliki atau diwariskan dapat habis. Sesi literasi ini menjadi bagian dari upaya AAJI mendorong generasi muda agar tidak hanya memahami tabungan dan investasi, tetapi juga manajemen risiko melalui proteksi.