JAKARTA – Indeks saham utama Amerika Serikat (AS) ditutup menguat terbatas pada perdagangan Selasa (17/3), di tengah kekhawatiran pasar terhadap pergerakan harga minyak mentah dan inflasi. Nasdaq Composite memimpin penguatan dengan naik 0,47%, disusul S&P 500 yang bertambah 0,25% dan Dow Jones Industrial Average yang naik tipis 0,10%.
Market Analyst Forex.com, Fawad Razaqzada, menilai persepsi pasar saat ini berupaya mengabaikan ketegangan antara AS dan Iran. Namun, menurutnya, pelaku pasar tetap berhati-hati. “Namun pasar tetap tidak terbawa suasana. Jika konflik berlanjut, risikonya akan jauh lebih berat bagi pasar saham,” ujar Razaqzada seperti dikutip Bloomberg.
Pelaku pasar juga menantikan hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan diumumkan Federal Reserve pada Rabu (18/3) waktu setempat. Seiring penantian arah kebijakan moneter tersebut, indeks dolar AS (DXY) turun 0,2%.
Pelemahan dolar memberi ruang penguatan sejumlah mata uang global. Euro naik 0,3% ke US$1,1540, sementara poundsterling menguat 0,3% ke US$1.3358.
Dari pasar komoditas, harga minyak mentah WTI turun 0,83% ke US$95,41 per barel. Sementara itu, Brent tercatat naik 3,20% ke US$103,42 per barel.
Di pasar logam mulia, harga emas spot pada pembukaan sesi Asia hari ini melemah 0,10% dan bertahan di level US$5.000,45 per troi ons. Harga perak turun 0,91% ke US$79,14 per troi ons, sedangkan tembaga stagnan di US$576,7 per pon.
Di Asia, mayoritas indeks saham utama bergerak variatif pada perdagangan Selasa (17/3). Nikkei 226 turun 0,09% dan Shanghai Composite melemah 0,85%, sementara KOSPI menguat 1,63% dan Hang Seng naik 0,13%.