Pasar saham Vietnam diproyeksikan memasuki fase perkembangan baru mulai 2026, dengan tuntutan yang lebih tinggi terhadap kualitas, efisiensi, kedalaman, dan keberlanjutan. Ketua Komisi Sekuritas Negara (SSC) Vu Thi Chan Phuong menyatakan periode tersebut menjadi langkah penting untuk mendukung tujuan pembangunan ekonomi 2026–2030 sebagaimana ditetapkan dalam Kongres Nasional ke-14 Partai Komunis Vietnam.
Menurut Phuong, dalam periode 2026–2030 Vietnam menargetkan pertumbuhan cepat dan berkelanjutan, termasuk upaya mencapai rata-rata pertumbuhan PDB lebih dari 10% per tahun. Seiring target tersebut, kebutuhan meningkatkan efisiensi pasokan modal jangka menengah dan panjang dinilai semakin mendesak. Pasar modal, termasuk pasar saham, ditegaskan akan memainkan peran lebih kuat sebagai saluran penting aliran modal ke perekonomian.
Untuk mendukung arah itu, SSC di bawah arahan Kementerian Keuangan menyiapkan rangkaian solusi yang berfokus pada dua agenda utama: mengembangkan pasokan investasi dan mengembangkan permintaan investasi guna mendorong pembangunan pasar saham Vietnam yang berkelanjutan.
Dari sisi pasokan, kebijakan diarahkan melalui tiga komponen, yakni pasar saham, pasar obligasi, dan pasar derivatif. Pada pasar saham, regulator melanjutkan penyempurnaan mekanisme penawaran umum perdana (IPO) yang terkait dengan pencatatan saham, termasuk upaya mempersingkat waktu membawa saham ke bursa menjadi kurang dari 30 hari. SSC juga mendukung perusahaan penanaman modal asing (FDI) untuk menawarkan sekuritas kepada publik dan mencatatkannya guna meningkatkan pasokan sekuritas berkualitas, sekaligus mendorong privatisasi dan divestasi modal negara yang terhubung dengan pasar saham, terutama pada perusahaan dengan tingkat kepemilikan negara yang tinggi.
Untuk pasar obligasi, fokus diarahkan pada penguatan kepercayaan, perbaikan kerangka hukum, dan diversifikasi produk, termasuk obligasi hijau dan obligasi berkelanjutan. Bersamaan dengan itu, solusi lain mencakup upaya meningkatkan peringkat kredit nasional, mengembangkan layanan penilaian, serta menstandarisasi mekanisme pengelolaan aset jaminan.
Di pasar derivatif, regulator melanjutkan pengembangan produk baru seperti indeks berjangka dan obligasi pemerintah berjangka, meneliti penerapan opsi indeks, serta mendiversifikasi instrumen keuangan seperti waran, sertifikat dana, dan produk keuangan hijau.
Dari sisi permintaan, SSC menyebut solusi difokuskan pada tiga pilar, yakni mengembangkan investor institusional, menarik investor asing, dan meningkatkan kualitas investor individu. Selain dua kelompok solusi utama tersebut, SSC juga mempromosikan langkah pendukung berupa penguatan pengawasan, inspeksi, dan audit untuk memastikan transparansi pasar, serta perbaikan kerangka hukum dan peningkatan kapasitas sistem pengawasan.
SSC juga membangun sistem pemantauan komprehensif dengan penerapan teknologi kecerdasan buatan untuk meningkatkan efisiensi pemantauan dan mendukung operasi pasar yang adil serta transparan. Pada saat yang sama, regulator melanjutkan modernisasi infrastruktur teknologi informasi, mendorong transformasi digital, dan meningkatkan sistem perdagangan.
Sejumlah masukan juga disampaikan dari pelaku usaha. Direktur Jenderal Deo Ca Infrastructure Investment Joint Stock Company (HHV) Ngo Truong Nam menilai agar pasar saham menjadi saluran utama mobilisasi modal jangka menengah dan panjang, termasuk untuk pengembangan infrastruktur transportasi, Vietnam perlu terus mendorong peningkatan pasar saham agar menarik lebih banyak modal internasional dan memperluas kemampuan penghimpunan dana. Ia mengusulkan peninjauan dan perbaikan aturan penerbitan sekuritas, penggalangan dana, dan mobilisasi modal—terutama bagi perusahaan infrastruktur terkemuka—untuk mempersingkat waktu pemrosesan dan menyederhanakan prosedur administrasi.
Ngo Truong Nam juga mendorong penyempurnaan kerangka hukum instrumen mobilisasi modal jangka panjang seperti obligasi proyek, obligasi konstruksi, atau model dana investasi infrastruktur, serta penerbitan pedoman khusus dalam dokumen hukum terkait agar tersedia dasar implementasi yang jelas bagi perusahaan dan investor.
Perwakilan Perusahaan Transportasi Minyak Vietnam mengusulkan agar Kementerian Keuangan dan SSC segera menyusun peta jalan penerapan IFRS bagi perusahaan tercatat, mempercepat divestasi negara yang terkait dengan pencatatan saham, serta memperbaiki aturan agar perusahaan milik negara memiliki tingkat otonomi tata kelola yang setara dengan perusahaan swasta.
Dalam konferensi tersebut, Menteri Keuangan Nguyen Van Thang menyatakan bahwa untuk mencapai pertumbuhan PDB dua digit pada 2026–2030, Vietnam perlu memobilisasi sedikitnya 38,5 juta miliar VND, dengan 80% di antaranya berasal dari modal sosial. Dengan ruang kebijakan moneter yang dinilai terbatas, ia menekankan pasar saham perlu menjadi saluran pilihan bagi pelaku usaha untuk menghimpun modal jangka menengah dan panjang.
Menteri Keuangan meminta SSC, Bursa Efek, serta Perusahaan Penitipan dan Kliring Sekuritas Vietnam untuk memusatkan perhatian pada sejumlah kelompok solusi, termasuk konsisten pada arah strategis dan pedoman Partai serta Negara, memperkuat kerangka kelembagaan dan kualitas kerangka hukum agar operasi pasar lebih transparan, konsisten, dan selaras praktik terbaik global. Ia juga menekankan peningkatan standar tata kelola perusahaan publik, standar keterbukaan informasi, serta penguatan perlindungan hak dan kepentingan sah investor.
Selain itu, Nguyen Van Thang menegaskan perlunya implementasi efektif dan tepat waktu solusi dalam Strategi Pengembangan Pasar Saham, Proyek Peningkatan Pasar Saham, serta Proyek Restrukturisasi Investor dan Pengembangan Industri Dana Investasi. Fokusnya mencakup penguatan skala dan keragaman produk pasar, kelanjutan privatisasi dan divestasi modal negara yang terkait pencatatan dan pendaftaran perdagangan, mendorong perusahaan besar serta perusahaan berpotensi tumbuh tinggi masuk ke pasar, dan peningkatan kualitas tata kelola serta transparansi informasi emiten. Pemerintah juga menargetkan pengembangan basis investor yang berkelanjutan, terutama investor institusional dan jangka panjang, melalui penguatan lembaga investasi profesional seperti dana investasi dan dana pensiun, serta penciptaan kondisi yang mendukung masuknya arus investasi asing jangka panjang dan stabil.