Jakarta — Sejumlah agenda pasar diperkirakan menjadi perhatian pelaku pasar setelah libur panjang Lebaran Idul Fitri. Beberapa tanggal dinilai berpotensi memengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), mulai dari rilis data investor Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) hingga pembaruan indeks global.
Pada akhir Maret 2026, perhatian pasar akan tertuju pada rilis data 27 kategori investor dari KSEI. Data ini diproyeksikan memberi gambaran lebih rinci mengenai peta aliran dana (flow) di pasar modal Indonesia.
KSEI kini membagi profil investor ke dalam kategori yang lebih spesifik untuk meningkatkan transparansi. Jika sebelumnya sorotan pasar kerap terbatas pada perbandingan investor asing dan domestik, data terbaru akan memetakan perilaku investasi dari kelompok institusi—seperti dana pensiun, asuransi, perbankan, yayasan, hingga perusahaan efek—serta investor ritel, yang jumlah kepemilikan individu disebut telah melampaui 12 juta SID (Single Investor Identification).
Selain itu, data tersebut juga dapat menunjukkan apakah akumulasi saham pasca-Lebaran lebih banyak didorong institusi lokal yang melakukan penyesuaian portofolio (rebalancing) atau investor asing yang kembali masuk ke pasar berkembang (emerging markets). Sejalan dengan kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) yang terintegrasi dengan data KSEI, rilis akhir Maret ini juga akan mencakup pembaruan daftar pemegang saham di atas 1%.
Rilis KSEI pada akhir Maret disebut menjadi salah satu basis argumen bagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam pertemuannya dengan MSCI pada April 2026. Data tersebut akan menjadi indikator apakah free float di IHSG benar-benar likuid dan dimiliki publik, atau justru terkonsentrasi pada entitas terafiliasi—isu yang selama ini menjadi keluhan lembaga indeks global.
Isu terkait MSCI telah mencuat sejak Morning Call MSCI pada akhir Januari 2026, ketika lembaga indeks global itu menyoroti sejumlah aspek struktur pasar modal Indonesia. Pada Februari 2026, perhatian pasar meningkat seiring adanya penyesuaian indeks yang memasukkan saham CLEO dan ACES, sementara INDF mengalami penurunan bobot. Perubahan tersebut memicu diskusi lebih luas mengenai kondisi pasar saham domestik, khususnya terkait free float.
MSCI menilai tingkat kepemilikan publik pada beberapa emiten di Indonesia masih relatif terbatas, sehingga dinilai berpengaruh terhadap likuiditas dan transparansi pasar. Karena itu, MSCI mendorong peningkatan transparansi dan reformasi struktur pasar agar pasar modal Indonesia lebih sesuai dengan standar global.
Setelah agenda pertemuan OJK dan MSCI, pasar juga akan mencermati pembaruan indeks FTSE Russell pada 7 April 2026. Pembaruan indeks global semacam ini kerap diikuti penyesuaian portofolio oleh dana investasi internasional yang menjadikan indeks sebagai acuan, sehingga perubahan komposisi dapat berdampak pada arus dana masuk maupun keluar pada saham tertentu.
Memasuki Mei 2026, pasar menunggu keputusan MSCI yang dinilai krusial. Hasil evaluasi ini berpotensi memunculkan sentimen besar bagi pasar saham Indonesia, baik positif maupun negatif, bergantung pada arah kebijakan yang diambil.
Pada Agustus 2026, pasar diperkirakan menghadapi fase rebalancing setelah keputusan MSCI. Periode ini biasanya diikuti penyesuaian portofolio oleh berbagai dana global yang mengikuti indeks MSCI, sehingga dapat memicu volatilitas pada sejumlah saham, khususnya saham berkapitalisasi besar.
Di luar agenda indeks global, BEI juga disebut tengah mengkaji operasional short selling yang sudah dibahas beberapa tahun terakhir sebagai bagian dari upaya memperdalam pasar. Namun, implementasinya dikabarkan kembali ditunda dengan tujuan menjaga stabilitas pasar saat kebijakan tersebut berjalan.
BEI menilai ada tiga hal yang masih perlu dipenuhi untuk menjalankan short selling, yakni jumlah sekuritas yang siap dari sisi sistem dan operasional masih minim, kondisi pasar dinilai belum kondusif, serta adanya penundaan implementasi transaksi short selling atas arahan OJK.
Dengan rangkaian agenda tersebut, investor dinilai perlu mencermati kalender peristiwa yang berpotensi memengaruhi pasar. Pemahaman atas jadwal rilis data, pembaruan indeks, hingga kebijakan bursa dapat membantu mengantisipasi volatilitas dan menyiapkan strategi investasi di tengah ketidakpastian yang masih berlangsung.