Penulis buku Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki, kembali menyampaikan peringatan mengenai potensi kejatuhan besar di pasar saham global. Peringatan itu muncul saat pasar mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan dari level tertingginya.
Melalui unggahan di platform X, Kiyosaki mengatakan ia telah lama mengingatkan soal kemungkinan krisis tersebut. Ia merujuk pada bukunya Rich Dad’s Prophecy (2013) yang, menurutnya, telah memprediksi terjadinya crash pasar saham terbesar dalam sejarah. “Pada 2026 saya berharap saya salah… tetapi saya khawatir crash itu sekarang sedang terjadi,” tulisnya, dikutip dari Yahoo Finance, Minggu (15/3/2026).
Kiyosaki menilai akar persoalan yang memicu krisis keuangan global 2008 belum benar-benar diselesaikan. Karena itu, ia berpendapat krisis berikutnya berpotensi lebih besar. Sebagai catatan, krisis finansial 2008 dipicu oleh gelembung pasar perumahan di Amerika Serikat yang ditopang kredit berisiko tinggi serta instrumen keuangan kompleks yang terkait dengan kredit tersebut.
Setelah krisis 2008, regulator memperketat aturan perbankan dan kredit perumahan. Namun, sebagian pengamat menilai risiko finansial hanya berpindah ke sektor lain dalam sistem keuangan.
Kiyosaki juga menyoroti dampak yang bisa meluas apabila penurunan pasar kembali terjadi seperti pada 2008. Saat itu, indeks saham S&P 500 tercatat anjlok sekitar 38,5%. Dengan banyaknya kekayaan masyarakat yang terhubung ke pasar saham, ia memperingatkan kelompok yang dinilai paling rentan adalah generasi baby boomers yang mendekati masa pensiun.
“Tabungan pensiun baby boomers di seluruh dunia bisa lenyap karena dunia dipenuhi utang yang tidak bisa dibayar kembali,” ujarnya. Risiko tersebut, menurutnya, semakin besar karena banyak dana pensiun memiliki alokasi tinggi pada saham.
Di Amerika Serikat, dana pensiun sektor swasta disebut menempatkan hampir 70% asetnya pada saham. Sementara rumah tangga AS menyimpan sekitar 45,4% aset keuangannya dalam bentuk saham.
Di tengah peringatannya, Kiyosaki juga menyampaikan sejumlah saran menghadapi kemungkinan krisis. Ia mendorong investor bersikap proaktif dengan mempertimbangkan aset seperti emas, perak, Bitcoin, Ethereum, serta investasi pada sumur minyak nyata.
Kiyosaki dikenal sebagai pendukung investasi emas dan perak. Menurutnya, logam mulia dapat berperan sebagai aset lindung nilai, terutama saat terjadi krisis ekonomi. Dalam sebuah wawancara pada 2021, ia menyatakan tidak membeli emas karena menyukainya, melainkan karena tidak percaya pada The Fed.
Selain logam mulia, ia juga menyarankan investasi pada properti yang menghasilkan pendapatan, seperti properti sewa. Menurutnya, arus kas dari sewa dapat tetap berjalan ketika pasar mengalami tekanan. Properti juga kerap dipandang sebagai pelindung terhadap inflasi karena nilainya dan pendapatan sewa cenderung meningkat saat inflasi naik. Kiyosaki pernah menyebut memiliki sekitar 1.500 properti sewa.
Di sisi lain, ia juga menyatakan dukungan terhadap aset kripto, terutama Bitcoin dan Ethereum. Kiyosaki mengakui harga kripto berfluktuasi tajam, tetapi baginya penurunan harga justru menjadi peluang untuk membeli. Ia menyebut kelangkaan Bitcoin sebagai daya tarik utama, mengingat jumlahnya dibatasi maksimal 21 juta koin.
Meski demikian, Kiyosaki menekankan pentingnya diversifikasi. Selain saham, logam mulia, properti, dan kripto, ia juga menyinggung aset alternatif seperti karya seni yang menurutnya memiliki pasokan terbatas dan diminati kolektor global, sehingga berpotensi mempertahankan nilai saat pasar keuangan tertekan.
Dalam situasi ekonomi global yang dinilai penuh ketidakpastian, Kiyosaki mengingatkan investor untuk mempersiapkan portofolio yang lebih beragam guna menghadapi potensi gejolak pasar ke depan.