BERITA TERKINI
Riset Katadata: Pinjaman Daring Berpeluang Jadi Mitra Penyaluran Dana dan Penggerak Ekonomi

Riset Katadata: Pinjaman Daring Berpeluang Jadi Mitra Penyaluran Dana dan Penggerak Ekonomi

Katadata Insight Center memaparkan peluang pinjaman daring (pindar) sebagai salah satu penggerak perekonomian, terutama melalui perannya sebagai mitra strategis dalam penyaluran dana pemerintah. Lead for Tech and Finance Advisory Katadata Insight Center, Hanif Gusman, menyebut pindar berpotensi menjadi saluran distribusi kredit yang lebih fleksibel dibanding perbankan konvensional.

Pernyataan itu disampaikan Hanif dalam acara paparan Riset Industri Pindar AFPI dan Katadata Insight Center di Jakarta, Rabu (4/3). Ia merujuk pada kebijakan pemerintah yang pada Agustus 2025 menyalurkan Rp 200 triliun ke bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk memacu kredit.

Menurut Hanif, pindar dapat memanfaatkan inovasi “balance for industry” untuk menjaring calon debitur. Dengan mekanisme tersebut, pindar dinilai mampu menyaring calon peminjam tanpa memerlukan agunan atau persyaratan ketat seperti yang lazim diterapkan bank konvensional.

Selain sebagai kanal penyaluran, riset tersebut menyoroti kemampuan pindar melampaui batas geografis. Hanif menyatakan masih ada penduduk yang kesulitan mengakses lembaga keuangan secara fisik. Dalam risetnya, tercatat 18,9% penduduk masih kesulitan mengakses layanan keuangan secara fisik. Riset itu juga mencatat adanya kesenjangan inklusi keuangan antara wilayah perkotaan sebesar 83,6% dan pedesaan 75,7%.

Ia menilai model bisnis pindar yang sepenuhnya digital dan tanpa kantor fisik menjadi faktor penting bagi pertumbuhan penyaluran pinjaman, sekaligus mendukung pemerataan akses kredit. Data riset menunjukkan pertumbuhan penyaluran pindar di luar Jawa, dengan penerimaan pinjaman naik 37,6% menjadi 4,63 juta akun. Dari sisi nilai, volume penyaluran meningkat 23,9% dari Rp 6,81 triliun menjadi Rp 8,44 triliun.

Riset itu juga menyinggung peran pindar dalam menopang konsumsi nasional. Hanif mengatakan, dalam beberapa waktu terakhir tren penyaluran pindar produktif mengalami penurunan, sementara penyaluran pindar konsumtif meningkat. Dalam konteks tersebut, pinjaman konsumtif dinilai berperan dalam menjaga stabilitas konsumsi rumah tangga.

Hanif mengingatkan konsumsi rumah tangga merupakan kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia, dengan kontribusi yang stabil di kisaran 52% hingga 58% dalam lima tahun terakhir.

Di sisi lain, Hanif menyebut pinjaman pindar produktif tetap berperan mengisi kebutuhan pendanaan. Berdasarkan survei terhadap UMKM, pinjaman dari pindar disebut banyak digunakan untuk mengejar produktivitas, bukan untuk tujuan pasif atau konsumsi. Riset tersebut juga mencatat dampak finansial per Rp 1 pinjaman produktif memiliki output ekonomi langsung yang berkontribusi Rp 6 terhadap perekonomian nasional.

Hanif menjelaskan alokasi dana yang diterima pengguna kerap digunakan untuk pembelian bahan baku serta ekspansi bisnis, seperti membuka wilayah atau memperluas jangkauan. Selain itu, dana juga disebut dimanfaatkan untuk tujuan jangka panjang, antara lain inovasi produk, persediaan pelatihan, serta penambahan atau peningkatan tenaga kerja.

Berdasarkan temuan tersebut, riset Katadata Insight Center merekomendasikan sejumlah langkah. Pertama, memperkuat sinergi perbankan dan pindar melalui kolaborasi channeling antara bank Himbara dan platform pindar, terutama untuk menjangkau segmen unbankable dengan biaya modal yang lebih kompetitif.

Kedua, mendorong transparansi biaya dengan menetapkan standar komunikasi biaya layanan yang lebih jelas guna meningkatkan kepercayaan konsumen dan mengurangi hambatan psikologis calon peminjam.

Ketiga, meningkatkan literasi digital dan edukasi keuangan bagi UMKM, khususnya terkait manajemen risiko pinjaman serta pemilihan platform yang berizin OJK, agar pelaku usaha dapat membedakan layanan resmi dari praktik ilegal yang merugikan.