Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Viva Yoga Mauladi, menyoroti perbedaan data pangan yang dimiliki oleh beberapa lembaga pemerintah, seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Bank Indonesia (BI), Kementerian Pertanian (Kementan), dan Kementerian Perdagangan (Kemendag). Menurut Viva, ketidaksesuaian data tersebut menunjukkan lemahnya koordinasi antar lembaga dan berpotensi dipengaruhi oleh faktor politik.
Dalam pernyataannya di Jakarta, Viva menyampaikan bahwa data pangan yang disajikan BPS sebagian besar merupakan data sekunder, yakni sekitar 80 persen. Hal ini dinilai mengurangi akurasi dan validitas data, terutama karena keterlibatan pemerintah daerah yang memiliki kapasitas dan integritas yang beragam. "Posisi Otonomi Daerah membuat Kepala Dinas menjadi bagian dari bargaining politik, sehingga tidak semua Kepala Dinas memiliki kapasitas yang memadai," ujarnya.
Viva juga mengemukakan bahwa data antara BPS, BI, Kementan, dan Kemendag seringkali berbeda-beda. Menurutnya, perbedaan ini terjadi karena masing-masing lembaga memiliki fokus yang berbeda, misalnya BPS lebih menonjolkan angka produksi, sementara Kemendag lebih menekankan pada angka konsumsi. "Ini menyebabkan data menjadi tidak seimbang dan perlu koordinasi yang lebih baik di tingkat Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian," jelasnya.
Contoh konkret yang disampaikan Viva adalah mengenai data jagung. Pada satu kesempatan Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas), pemerintah menyatakan akan mengimpor jagung sebanyak 1,9 juta ton. Namun, keesokan harinya, Kementan merilis angka ramalan produksi jagung sebesar 24 juta ton dengan konsumsi 21 juta ton, sehingga terdapat surplus sebesar 3 juta ton. Kondisi ini mencerminkan lemahnya koordinasi dan sinkronisasi data antar lembaga pemerintah.
Viva mempertanyakan apakah BPS perlu mendapatkan tambahan dana agar dapat melakukan pengumpulan data primer yang lebih akurat, mengingat saat ini data yang tersedia cenderung terpotong-potong dan tidak konsisten. Hal ini menjadi penting untuk memastikan kebijakan pangan yang tepat dan efektif di masa mendatang.