Penyaluran layanan bayar nanti (paylater) dan pinjaman daring (pindar/pinjol) tercatat meningkat pada Januari, seiring mendekatnya periode Ramadan dan Idulfitri yang umumnya diikuti kenaikan aktivitas ekonomi serta kebutuhan pembiayaan.
Secara total, penyaluran paylater pada Januari mencapai Rp 39,28 triliun. Dari jumlah tersebut, paylater yang disalurkan perbankan tercatat Rp 27,1 triliun atau naik 19,32% dibandingkan Desember 2025 (month to month/mtm). Penyaluran ini diberikan kepada 31,23 juta rekening, naik tipis dari 31,21 juta rekening pada Desember 2025.
Sementara itu, paylater yang disalurkan perusahaan pembiayaan mencapai Rp 12,18 triliun atau melonjak 71,13% secara tahunan (year on year/yoy). Pada segmen ini, rasio pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) tercatat NPF gross 2,77% dan NPF nett 0,82%.
Kenaikan juga terjadi pada penyaluran pinjaman daring. Nilainya meningkat 25,52% (yoy) menjadi Rp 98,54 triliun.
Ekonom sekaligus Direktur Pengembangan Big Data Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto menjelaskan, secara musiman Ramadan identik dengan peningkatan aktivitas ekonomi karena adanya tambahan pendapatan, seperti Tunjangan Hari Raya (THR). Kondisi tersebut biasanya ditandai naiknya permintaan barang dan jasa yang kemudian diikuti peningkatan pembiayaan.
Ketua Bidang Humas Asosiasi Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Kuseryansyah menyampaikan tren pembiayaan umumnya meningkat setiap Ramadan, meski AFPI belum mempublikasikan besaran kenaikannya secara persentase. Ia menyebut dua faktor utama yang mendorong kenaikan penyaluran pindar selama Ramadan dan Idulfitri.
Pertama, kebutuhan tambahan modal kerja bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk membeli bahan baku di tengah meningkatnya permintaan konsumen menjelang Lebaran. Kedua, kenaikan permintaan pinjaman untuk kebutuhan mudik serta belanja Hari Raya.
Berdasarkan data salah satu platform pindar anggota AFPI, penyaluran selama periode Ramadan tercatat meningkat sekitar 15%. Namun, Kuseryansyah menekankan angka tersebut belum menggambarkan keseluruhan industri karena tiap platform memiliki segmen pasar dan strategi bisnis yang berbeda.
Dalam penggunaan dana, pinjaman yang tercatat sebagai konsumtif tidak seluruhnya dipakai untuk belanja pribadi. Riset internal salah satu platform menunjukkan sekitar 36% dana pinjaman konsumtif dialokasikan untuk keperluan produktif, sementara 64% sisanya digunakan untuk konsumsi.

