BERITA TERKINI
Pasar Keuangan RI Ditutup Beragam, IHSG Menguat Saat Rupiah Masih Melemah

Pasar Keuangan RI Ditutup Beragam, IHSG Menguat Saat Rupiah Masih Melemah

Jakarta—Pasar keuangan Indonesia menutup perdagangan pekan lalu dengan pergerakan yang beragam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat, pasar surat berharga negara (SBN) menunjukkan penurunan yield, sementara nilai tukar rupiah masih melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

IHSG pada Jumat (9/1/2026) sempat bergerak fluktuatif. Setelah sempat naik 0,62%, indeks sempat turun ke level 8.908,17 atau melemah 0,19%. Namun, IHSG akhirnya ditutup naik 0,13% ke 8.936,75. Dengan hasil tersebut, IHSG tercatat menguat 1,8% pada pekan pertama 2026.

Aktivitas perdagangan mencatat 381 saham naik, 331 saham turun, dan 246 saham tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp27,32 triliun, dengan volume 54,36 miliar saham dalam 3,4 juta transaksi.

Dari sisi sektoral, sektor konsumer non-primer menjadi penguat terbesar dengan kenaikan 2,1%, diikuti sektor industri yang naik 1,78% dan sektor kesehatan yang menguat 1,34%.

Sejumlah saham turut menjadi pendorong utama pergerakan indeks, di antaranya Amman Mineral (AMMN) dengan kontribusi 8,06 indeks poin, Bank Central Asia (BBCA) 7,13 indeks poin, serta Merdeka Copper Gold (MDKA) 3,85 indeks poin.

Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan dukungan terhadap optimisme Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengenai peluang IHSG menembus level 10.000 pada tahun ini. Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan Desember 2025.

Sementara itu, rupiah ditutup melemah 0,06% ke level Rp16.795 per dolar AS pada Jumat (9/1/2026), berdasarkan data Refinitiv. Pelemahan ini memperpanjang tren depresiasi rupiah menjadi enam hari perdagangan beruntun sejak awal 2026. Dalam perjalanannya, rupiah sempat menyentuh Rp16.843 per dolar AS sebelum pelemahan berkurang menjelang penutupan.

Penguatan dolar AS di pasar global menjadi salah satu faktor yang menekan rupiah. Menguatnya indeks dolar AS (DXY) mencerminkan meningkatnya minat pelaku pasar terhadap aset berdenominasi dolar, sehingga mendorong permintaan dolar dan memberi tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Penguatan dolar terjadi seiring pelaku pasar mencermati rilis laporan ketenagakerjaan AS (nonfarm payrolls/NFP) terbaru yang dinilai penting untuk membaca kondisi pasar tenaga kerja. Perhatian juga tertuju pada data klaim pengangguran mingguan yang menunjukkan kenaikan tipis pengajuan tunjangan pengangguran, serta dinamika tingkat pengangguran yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga ke depan.

Dari pasar obligasi, yield SBN tenor 10 tahun ditutup melandai dari 6,148% menjadi 6,147% pada akhir perdagangan pekan lalu, turun 1 poin dibandingkan hari sebelumnya. Pergerakan ini berbeda dengan sejumlah pasar obligasi luar negeri—seperti AS, Australia, Jerman, dan Jepang—yang mencatat kenaikan yield signifikan sejak awal Desember 2025.

Di pasar domestik, penurunan yield mengindikasikan kepercayaan investor untuk menempatkan likuiditas di obligasi Indonesia, yang disebut didorong oleh kekuatan pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Untuk perdagangan hari ini, perhatian pelaku pasar disebut tertuju pada rilis data inflasi AS serta data penjualan eceran Indonesia sebagai sentimen yang berpotensi menggerakkan pasar.